Sunday, May 14, 2017 0 comments

King Arthur, kekinian

This is a story from faraway island. Story of a great man and his people. A story yet it is not a history. This is the legend
of King Arthur.

Yah begitulah. Silahkan baca sendiri detail ceritanya deh ya.
Karena berupa legenda, maka kisahnya hadir dalam banyak versi. Dan film ini adalah versi kekinian. Karakter Arthur ditampilkan sebagai orang yang easy going, smart, humoris tapi keras (tipikal Hollywood deh). Agak berbeda dari yg biasanya, yang semodel Aragorn di Lord of The Ring (LOTR).

Film ini dibuka dengan adegan perang antara Haq & kebatilan. Menariknya, dipihak musuh, ada tentara gajahnya. wahh, mungkin sang sutradara terinspirasi dari perang epik di LOTR. Tapi ini mirip sekali dengan strategi perang musuh di perang Qadisiyyah, dimana pasukan Persia menggunakan Gajah untuk melawan pasukan Muslim.

Beberapa adegan lain pun mirip dengan kisah-kisah Nabawiyah.
Arthur kecil yang terbuang dan kemudian menjadi budak, ini mirip banget dengan kisah si Tampan Yusuf.
Ketika dewasa, Arthur terusir dari negrinya dan menjadi buronan negara. Nah...inget syapa?? Yup... si Gagah Musa.
Kemudian ketika Arthur harus kembali untuk fight for justice, berhadapan dengan si raja lalim, Ular besar muncul menolongnya dan memakan smua prajurit raja.
ini persis dengan kisah Musa dan tongkatnya kan??

sedikit menyimpulkan, bahwa kisah Anbiya itu, adalah sangat menginspirasi. Maka itu, ada banyak potongan mozaik kisah para Nabi tersebar di dalam Al Qur'an.

Dan bahwa untuk membentuk kepribadian yang tangguh, to make a great man, adalah bukan dengan kisah-kisah sperti sleeping beauty, cinderella, kancil mencuri ketimun, spiderman atau Batman, tapi dengan kisah-kisah heroik sperti Siroh Nabawiyah dan Siroh Sohabiyah. Atau untuk di UK sana, kisah sperti King Arthur ini.
Jadi Bunda, Ayah, cobalah untuk mengganti kisah-kisah negri dongeng yang biasanya dibacakan sebagai pengantar tidur sang buah hati, dengan kisah anbiya atau para sahabat.

olrait..back to the story again.
King Arthur itu biasanya identik dengan Merlin, the wise wizard, si penyihir bijak yang mendampinginya (sperti Dumbledore bagi Harry potter lah, atau bagai Gandalf terhadap Aragorn di LOTR). Tak terpisahkan. Sahabat karib tapi juga rival. unik lah pokoknya persahabatan mereka. Jadi agak kecewa karna ternyata Merlin gak muncul disini. Dia hanya mengirimkan muridnya. which is quite different with the original story.

Although there are some changes, tapi feature sperti pedang legendarisnya, Excalibur, the knight of round table (ksatria meja bundar), tidak mengecewakan. Humor-humornya segar dan cerdas.

In short, I didnt regret watching this movie. Great Movie, indeed.
Apalagi effect ketika perang. awesome bangedh!
kata temen: "mreka nih ya emang total kalo bikin film".
Yah.. emang gak bisa disamain juga sih dengan adegan perang dalam film 'Omar', yang emang dibuat senatural mungkin.
Anyhow, this movie is worth to watch.

Sunday, January 22, 2017 0 comments

Gardening at school

Gardening and cooking have been primary subjects for school children in Japan.
The aim is to introduce the healthy life style since the very young age.

No wonder then, japanese children really love eating veggie. Something which is still quite uncommon here in Indonesia.

Nowadays, Britain's starting to adopt this method at some of their primary schools. It's one of the efforts to decrease the consumption of sugary food/drink since it makes a serious damage on children's health. Public becomes much more concern upon this issue hence they agree to put a tax on sugary food/drink. Well done, jamie!!


Hmmm...I wonder then, when we, here in Indonesia, will follow the step?

Gardening at school??
Wow! It's just like dream comes true.

Monday, December 19, 2016 0 comments

overwhelming thought

It’s quite worrisome reading the news of what is currently happening in Indonesia. It is reported that a large number of uneducated and unskilled Chinese have been coming to Indonesia to fill in the job vacancy. Isn’t that weird? I mean there are still a lot of Indonesians with no job, but why the government ignores them? Or else, if the issue is truly to help immigrant, then would it be better for Indonesia to help the Syrian refugee or Rohingya?

It looks like there’s a big gap between the government/ the leader of the country and the people. 
 
;