Some people believe in theory of evolution, that state man's ancestor is ape, then evolved into a new more good looking form, A Man, that we know today.
Others believe, man is definitely a Divine creation. Created directly by the hand of God in a perfect shape. In the form like it is now. Man is man, not an ape, not an animal.
The religious believe strictly emphasize that man is a God creation, not a result from an evolution.
I barely think, for those who insist that man has evolved from a form of ape into a man, don't you think... those people might be trying to alienate us from religious believe? to not believe in religion.
Well.. it could be
“Kita semua sama-sama di kasih jatah waktu 24 jam sehari.
Sama-sama dikasih panca indera lengkap. Alhamdulillah. Jadi ngga ada alasan
untuk ngga bisa, sementara orang lain bisa. Kalau dia bisa jadi penulis buku
terkenal, ya kita juga bisa”.
Jujur, saya masih sering ngga setuju dengan cara berfikir
yang begini. Ok lah, sebenarnya ini adalah bentuk sebuah dorongan. Motivasi
untuk menjadi diri yang lebih baik. Dengan banyak melakukan hal-hal positif dan
menjadi sosok nyata dari slogan ‘khairunnaas ‘anfauhum linnaas’.
Tapi bagi saya, yang terasa justru sebaliknya. Ada pesan
tersirat dari kalimat itu. Terkesan seolah seperti membandingkan diri kita
dengan orang lain; ‘kamu kok ngga bisa kayak dia sih? Sukses, aktif, hebat,
bisa begini begitu, dan bla bla bla…
Ketika saya bilang ini, orang bisa balik nyambit;
‘tuhh…excuse lagi kan kamu. Diajak jadi orang yang lebih baik, ada aja
alasannya”.
Macettt dah! Seriously! Ini kok malah jadi kayak saling
membela diri dan menyerang ya??
Ketika misalnya, sang
guru memerintahkan muridnya untuk melakukan sesuatu, tanpa disertai penjelasan,
hingga akhirnya sang murid bertanya, mengapa ia harus melakukan itu, apakah itu
salah?
Atau saat sang prajurit
mendapat titah dari komandannya untuk melaksanakan satu perintah, lagi, tanpa
dibarengi dengan keterangan apapun, lantas sang prajurit bertanya, mengapa saya
harus mengerjakan ini, apakah dia salah? Sudahlah, jalankan saja. Tidak perlu
banyak tanya.
Atau satu kali, sang ibu
menyuruh anaknya untuk mengerjakan satu hal, hanya berbekal perintah, kerjakan
ini, dan jangan banyak tanya! Ketika akhirnya tidak mau mengerjakan perintah
sampai sang anak tahu alasan mengapa dia harus mengerjakan perintah, apakah ia layak
disebut pembantah? Bandel?
Ketaatan jundi pada
qiyadah (deuuh, bahasanya), benarkah selalunya dalam bingkai ketaatan penuh?
Ketaatan penuh, yang bercirikan patuh mengerjakan apa yang telah diperintahkan
tanpa banyak tanya. Tanpa perlu tahu alasan
mengapa ia harus melakukan itu. Apakah begini ciri seorang jundi yang baik?
Jika iya, maka ini bisa menumbuhkan sebuah penyakit yang disebut taqlidul a’ma
(ketaatan buta). Jiwa kritis sang murid/prajurit/anak dibabat habis dengan satu kalimat perintah; “lakukan saja, jangan banyak tanya”. Ketaatan buta akan melahirkan fanatisme. Yang berbahaya adalah ketika fanatisme ini akhirnya membutakan mata hati, tidak lagi bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak, terhadap apapun yang diperintahkan/dilakukan atasannya. Maka kemudian muncullah pengkultusan Atasan.
Subscribe to:
Posts (Atom)


- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact