Sunday, December 23, 2012

Menyambut Kiamat


Saat ini, Dunia sedang dihebohkan dengan isu kiamat.
Dan diriku jadi heran sendiri. Mengapa orang-orang yang notabene adalah non muslim ini begitu risau dengan kiamat? Bukankah mereka mendustakannya? Takutkah mereka? Dan apa sebenarnya yang membuat mereka takut? Kematiankah? Kehancurankah? Rasa sakit yang melanda? Ataukah takut akan kehilangan? Ataukah mungkin saja, mereka takut, bahwa kehidupan setelah mati itu memang benar-benar ada?
Mereka ynag tidak percaya Allah, mendustakan agama, namun ternyata percaya akan terjadinya kiamat. 

Berbagai cara pun dikerahkan. Ada yang membangun bunker keselamatan, lucunya, bahkan ada yang membangun hotel/apartemen untuk ditinggali ketika kiamat nanti datang. Bahkan konon, alasan para ilmuwan merakit pesawat luar angkasa, dan gigih mencari planet kehidupan diluar sana, sebenarnya adalah agar bisa menyelamatkan diri dari Hari kehancuran Dunia. Entah berapa gudang uang yang telah dikosongkan demi mega proyek ini.
Tiap manusia berbeda-beda menyiapkan diri menghadapi hari kiamat. Rasanya, yang paling ayem menyikapi isu yang tengah beredar ini hanyalah umat islam. Ah, tidak bisa juga sebenarnya dikatakan demikian. Karena sejatinya mereka telah mempersiapkan diri sejak jauh hari untuk menghadapi peristiwa besar itu. Mereka bahkan menyiapkan diri untuk menjalani apa yang akan terjadi kemudian, yaitu setelah kiamat terjadi. Mereka sungguh telah lebih jauh menetapkan visi. Karena peristiwa yang terjadi setelah itu adalah jauh lebih dahsyat. Yaumul mizan, gerbang menuju kebakaan. Dimana tidak ada akhir dari sebuah awal.
Sebagai muslim, sudah begitu sering rasanya kita diingatkan Allah tentang hari akhir ini. Lihat saja dalam Al Qur’an. Begitu banyak ayat-ayat bertebaran yang menceritakannya.

Secara mental, kita sebenarnya sudah dipersiapkan oleh Allah untuk mengahadapinya. Bahkan sudah diberi tahu dengan cukup jelas bagaimana huru hara kiamat. Seperti apakah kondisi ketika itu, keterangan tentang tanda-tanda menjelang, bahkan petunjuk keselamatan pun sudah disampaikan. 

Maka sekarang pertanyaannya adalah; sudah sejauh apakah diri ini menyiapkan diri dan perbekalan untuk menghadapi itu semua?
  

0 comments:

Post a Comment

 
;