“Kebetulan”....
Hmmm... kadang aku bingung sendiri dg kata ini!
“Dari mana,mbak?”
“Dari pasar. Kebetulan lewat depan sini, jadi sekalian mampir aja!”
Well... dalam konteks ini maknanya adalah tidak disengaja ataw sesuatu terjadi tanpa kita rencanakan. (Yaahh... githu opiniku).
But guys... u know what... sebenarnya aku ga setuju dg pemakaian kata ini.
As muslim, of course kita percaya bahwa sgala sesuatu itu sudah dirancang dan diatur rapi, teliti oleh Allahh Rabbul ‘Alamin.
Seperti yg ditulis Andrea Hirata dalam buku Edensor-nya karna memiliki persamaan persepsi dg ilmuwan muslim international kita, Harun Yahya; ‘Hidup & Nasib, bisa tampak berantakan, misterius, fantastis & sporadis, namun setiap elemennya adalah subsistem keteraturan dari sebuah desain holistik yg sempurna. Menerima kehidupan berarti menerima kenyataan bahwa tak ada hal sekecil apapun terjadi karena kebetulan. Ini fakta penciptaan yg tak terbantahkan’.
Segala peristiwa, kejadian yg terjadi dalam kehidupan sebenarnya bekerja bagaikan jaring sarang laba-laba, selalu saling terkait. Dan ketika kita memakai kata ‘kebetulan’, itu artinya kita memutus dg sewenang2 korelasi itu, begitulah menurutku.
Dalam hal ini, aku setuju dg Robert Langdon.
Seperti menyusun puzzle, maka sekecil apapun potongan gambar itu, tentu memiliki peran juga untuk melengkapi the fuller picture.
Maka dari itu, ketika kita sudah menyadari apa yg sebenarnya terjadi, adalah lebih baik utk meminimalisasikan pemakaian kata ini dalam kamus kosakata harian kita.
Karna menurutku ini juga adalah satu bentuk dari penzahiran keimanan kita pada ketentuan-Nya, Qada & Qadar, dan sbg pengakuan atas ke Maha Sempurnaan-Nya dalam merancang dan mengatur segala sesuatu.
Well... these juz what I thought!


0 comments:
Post a Comment