Saturday, June 16, 2012

My super Dad

Bapak,apa kabar?
Lama aku tak mendengar suaramu, terlebih lagi melihat wajahmu. Dan hari ini aku ingin menulis sesuatu tentangmu. Karena hari ini, tanggal 16 juni, adalah hari bapak. dan karena aku tau, mengucapkan "happy father's day" padamu atau sekedar mengirimnya via sms, pastilah akan membuatmu heran & mengernyitkan keningmu. tentu, karena ini bukanlah bagian dari tradisi keluarga kita. jadi, izinkanlah aku meluahkannya dalam untaian kata-kata ini

Semenjak aku berada disini utk melanjutkan study-ku, kami jarang berkomunikasi. Kalaupun aku menelpon, paling ibu yg terima. Bapak memang jarang mau berbicara panjang lebar, itu sudah sifatnya.
Dulu semasa kecil, aku-lah yg paling akrab dg bapak. Apa-apa selalu bapak, Karena bapak tak pernah membuatKU marah atau jengkel.

Satu peristiwa yg mengingatkanKU pada bapak adalah peristiwa disatu subuh,beberapa minggu yg lalu. Pas aku bangun utk sholat subuh, room mateKU yg turkish datang padaku. Dia meminta tolong utk mengusir kecoa dikamarnya. (Wah... itu sih mudah!)Ketika KUbawa kecoa itu keluar kamar, dia lompat menjerit ketakutan dan memukulnya dg sandal. KUperhatikan wajahnya yg begitu ketakutan terhadap serangga usil itu.

Dan tiba2 KU tringat sewaktu KU kecil dulu, teriak teriak manggil bapak kalo ada kecoa.
“bapak, ada kecoa!”, begitu jeritKU. Dan bapak yg masih asyik makan, tanpa rasa marah sedikitpun bangkit utk menangkap sang kecoa. Begitu juga kalo ada orong2, atau hewan apapun yg membuatku takut, bapak pasti datang dg segera ‘membuangnya’.
Ah, bapak! Betapa engkau adalah seorang pahlawan bagi kami!
Berbagai memori ttg masa kecilKU pun muncul kembali satu persatu.

Duhai bapak...
Selau bapak yg menyiapkan untukKU dan adikKU, obat utk diminum sebelum tidur malam. Obat yg katanya bisa menyembuhkan penyakit yg kami idap.
Saat sore hari menjelang maghrib, kami biasanya menunggu bapak pulang. Barharap ada sesuatu yg dibawa sbg oleh2, walaupun hanya sekedar beberapa minuman teh kotak yg dibawa dari mess-nya.
Bapak berbeda dg ibu yg selalu mewanti-wanti utk tdk sering minta ini itu. Apapun yg KUminta, biasanya bapak akan penuhi. Kadang dg catatan, rahasia,ya!

Ibu juga mengajarkanKU untuk jadi anak yg baik dg menyuruhku membuatkan segelas kopi utk bapak setelah pulang kerja. Dan ini terus berlangsung selama beberapa tahun hingga aku masuk pondok dan jarang pulang kerumah kecuali liburan..
Bapak yg selalu mengantar jemput kami sekolah kalo sedang off kerja. Bapak yg jarang memarahi kami. Bapak yg sabar.
Kau tau, pernah dulu sewaktu kami kecil, kami sekeluarga pergi mengunjungi sanak family dan menginap beberapa hari disana. Sayangnya, bapak harus pulang lebih dulu karena sudah waktunya masuk kerja. Saat kami bertiga, aku, adikKU, dan ibu melihat2 album foto. dan aku tiba2 saja menangis saat melihat foto bapak. Huaaaaa.....!!! >_<. yg lain jadi kaget!

Hal yg paling sedih KUingat adalah kalo bapak sakit. Aku ingat ibu pernah bilang gini, “alhamdulillah... bapakmu itu orangnya sehat. Jarang sakit. Tapi kalau sudah sakit, dapet yg berat.” Dan itu memang benar!
AKU ngga akan pernah lupa bagaimana kalutnya kami semua ketika bapak belum datang juga dari pulang kerja padahal sudah magrib, ini ngga biasa karna bapak ngga pernah pulang selewat ini. Akhirnya yg ditunggu dateng juga. tapi... Bukan! Bukan bapak ternyata! Teman bapak, yg mengabarkan bahwa bapak dibawa kerumah sakit karena kecelakaan di tempat kerja. Duarrrr!
Mama nangis, oom langsung nenangin. Bapak kecelakaan, jarinya terpotong sewaktu menggrinda besi. Begitu katanya, entah, aku pun tak tau pasti karena begitu khawatir. Dan ahamdulillah, bapak berangsur pulih dan sehat kembali walau tanpa jari telunjuknya kanannya. (ya Rabb... inilah bukti cintanya pada kami...)

Yg kedua lebih membuatKU menguras air mata lagi. itu terjadi kira2 ketika bulan ramadhan,ditahun terakhirku sbg santri pondok. Bapak sakit demam awalnya, tapi ternyata ngga sembuh2 sekalipun sudah dibawa kedokter. Malah tambah parah. Aku sudah ngga ingat lagi detailnya gimana, tapi yg pasti, yg masih segar diingatanKU hingga sekarang adalah saat itu, malam hari, dirumahKU banyak tamu. Hanya bedanya, suasana tak seramai layaknya, karena merera datang utk menjenguk bapak yg masih sakit. Sungguh, sepi sekali! Yg kulihat diwajah-wajah mreka adalah simpati dan kesedihan.
Aku tak tahan, lalu keluar. Lewat pintu belakang, aku menuju jendela kamar bapak yg kordennya terbuka.
Ya Allah... aku tak sanggup utk tak menangis. Orang-orang duduk mengelilingi bapak yg terbaring lemah dan pucat. Lelaki itu, yg biasanya bugar dan selalu tersenyum, kini tergolek tak berdaya. Esoknya, bapak dibawa kerumah sakit utk dirawat lebih lanjut. Para tetangga ikut mengantarkan keberangkatannya yg menggunakan ambulan. ibu ikut mendampingi, arif_adikKU yg palin kecil_ dibawa serta. Praktis, yg tinggal dirumah Cuma aku dan adik. Dan sedihnya lagi, kira-kira 5 hari setelah itu adalah lebaran. Dan itulah lebaran yg paling sedih bagiku. Setelah didiagnosa dokter, ternyata penyakit bapak adalah lever dan hampir masuk ke penyakit kuning! Ya Allah..... Aku menangis, tak sanggup rasanya membayangkan harus kehilangan bapak.

Tak kan KU lupa. Ketika kecil dulu, kalau bapak mengaji selepas sholat maghrib, lalu aku atau adikku berebutan tidur dipangkuannya. Begitu damai dan aman terasa.
Atau Melihat bapak duduk diatas motor, dibawah pohon, menunggu kami pulang sekolah arab sore hari, adalah juga saat yg membahagiakan. Dengan sabar bapak mendengar segala ocehan kami sembari mengendarai motor dg hati-hati
Kenangan tentang bapak yg selalu bersepeda pergi dan pulang kerja adalah sebuah bukti kebersahajaannya.
Suatu hari, disiang yg panas, setelah pulang sekolah dg wajah kusut dan perut lapar, juga otak ruwet karna sibuk belajar, dan berharap pulang kerumah bisa menemukan makan siang sudah tersedia, wuaaa.... nikmatnya!
Tapi, rupanya saat itu keberuntungan sedang tidak berpihak padaku. Yg terjadi malah sebaliknya. Nasi habis, sayur ngga ada, lauk amblas, plus orang-orang rumah ketika itu malah asyik tidur siang. Apalagi?!... bruk!!! Aku lari kekamar, nangis sambil menahan lapar. "Semuanya jahat!!! Tega banget!".
Dan aksi ngambekku masih terus berlanjut hingga sore hari. Konon, aku orangnya pemarah! Bapak tau aku lagi ngambek, makanya beliau ngajak aku jalan2 sore, sekalian belajar naik motor. Wuaaaa.... syeneng! Emang ok bapakku!

Memang,bapak hampir tidak pernah duduk mendampingi kami saat belajar seperti yg biasa dilakukan ibu. Tapi aku tau,dalam diam ada cintanya.
Aku bisa memastikan bahwa bapakKU tidak pernah memakai setelan jas,paling pol hanyalah baju batik. Bapak paling jarang beli baju,karena beliau lebih mengutamakan kami,begitu kata ibu.
Walau begitu, aku bangga dengan bapakKU... yg walaupun tidak pernah memakai jas,yang hanya lulusan STM, tapi bisa menyekolahkan hingga aku sekarang berada disini, malaysia...
Ya Rabb... lindungi dia, sayangi dia, dan rahmatilah dia...

bapak.... Selamat hari ayah...
syukron laka ya aby....

0 comments:

Post a Comment

 
;