Sobat, pernah nggak suatu ketika, kalian
ngerasaain begitu sumpek dengan kuliah, ngga semangat pergi ke kelas. Bawaannya
ngantuk, gerah dan malas. Enggan ngerjain tugas. Kalaupun dikerjain itupun
tanpa usaha yang jelas. Yang penting beres, yo wes. Buyar kelas, tetiba
langsung ngerasa fresh. Anehnya, semangat begitu berkobar ketika kita pindah ke
outdoor atau non formal class (organisasi). Lincah bergerak kesana kemari. Begitu
aktif bahkan rela tidak tidur demi mengerjakan kerjaan segunung di
klub/organisasi. Bagi yang suka berorganisasi, rasanya paham deh dengan situasi
ini.
“males ah masuk kelas. Lebih suka di organisasi aja”.
“assignment, presentation,
entar aja deh. Ini masih ada kerjaan di kepanitiaan belum kelar”
“dosennya ngga asyik.
Males perhatiin jadinya”.
“mata kuliah ini mah gampang.
Tinggal baca buku selesai. Ngga perlu denger ceramah dosen juga inshaallah
ngerti kok”.
“di kelas gue pasif. Hanya
di organisasi gue baru hidup”.
Familiar dengan kalimat-kalimat itu?
Banyak orang yang menganjurkan agar
jangan hanya fokus di kuliah saja, tapi sebaiknya juga mencoba untuk belajar
dan aktif berorganisasi. Karena soft skill itu justru banyak di dapat di luar
kelas. Dan saya sangat setuju sekali dengan hal ini. Saya cukup mengerti hal ini
karena saya pun pernah merasakannya. Karena begitulah saya ketika S1 dahulu. duhh,, gak terasa. sudah tua rupanya diri ini.
Sekilas, ini terlihat baik-baik saja. Tapi benarkah demikian?
Sebenarnya, tidak ada yang salah
ketika kita ingin aktif berorganisasi. Hanya saja ini akan menjadi masalah
ketika akademik jadi terbengkalai. Bisa jadi karena energy kita sudah terkuras
untuk mengurusi organisasi, hingga ketika tiba waktu untuk belajar, langsung
K.O. Tugas-tugas dikerjakan dengan sisa-sisa energi dan semangat. Di kelas jadi
ngantuk. Dan ketika ujian tiba, nilai-nilai pun langsung terjun bebas. Oh, No!!!
Sob, ketika kita begitu aktif di
organisasi, dan sayangnya di bidang akademik agak jomplang, orang jadi memiliki
stigma negative terhadap organisasi.
“tuuh kan, gara-gara ikut organisasi jadi turun nilainya”.
Sob, ngerasa ngga, itu gara-gara kita! Kita yang menyuguhkan image itu ke khalayak ramai. Astgahfirullah…
“tuuh kan, gara-gara ikut organisasi jadi turun nilainya”.
Sob, ngerasa ngga, itu gara-gara kita! Kita yang menyuguhkan image itu ke khalayak ramai. Astgahfirullah…
Weits, bentar sob. Ini bukan
menyarankan kalian untuk meninggalkan organisasi dan kembali fokus total hanya
ke bangku kuliah. Oh, tidak. Mari berkaca pada kisah best student ini, Erica Goldson, bukan begini juga yang
kita inginkan, kan?!
Organisasi mungkin sudah menjadi
bagian dari diri kita. Organisasi adalah pelengkap akademik. Dan akademik
adalah separuh jiwa kita yang lain. Keduanya saling melengkapi. Jadi organisasi
itu bukan pelarian! Cateet!
Mungkin benar, banyak faktor yang
menjadi penyebabnya. Dosen yang monoton, mata kuliah yang kurang menarik, group
mate yang bikin ngga sreg, dst. Ini yang kita sebut sebagai faktor
eksternal.
Tapi sob, tau ngga? Orang bijak itu
tidak akan menyalahkan orang lain. Mereka justru lebih suka instropeksi diri
sendiri. Coba kita lihat statetement di atas tadi.
“ahh, mata kuliah ini
gampang. Cukup baca buku aja, selesai. Ngga perlu denger ceramah dosen juga
inshaallah ngerti kok”.
Sob, nyadar ngga? Ucapan seperti ini
sebenarnya sudah menandakan bahwa kita sudah sombong. Sombong, sob!
Astaghfirullah.
Bukankah sudah dikatakan bahwa,
sedikit saja ada rasa sombong di dalam diri, maka ilmu tidak akan masuk.
Pantaslah dosen nerangin di depan kelas, kita ngga bisa fokus. Dan meskipun
udah khatam bolak balik baca buku, masih saja ada yang ngga dimengerti.
Jadi gimana dong?
Tenang, sobat. First and foremost, yuk
kita luruskan kembali niat kita. Terutama untuk teman-teman yang kuliah di Luar
Negri. Kita flashback lagi. Niat awal untuk berada di negri ini apa. Melihat
kembali bagaimana perjuangan kita serta orang-orang yang sudah begitu banyak
membantu hingga akhirnya diri ini bisa menjejakkan kaki di luar negri. Kita highlight
lagi, tentang harapan-harapan yang pernah di hampar, bukan hanya harapan kita,
tapi juga harapan orang tua, keluarga, bahkan bangsa dan agama terhadap diri
kita. Amanah yang sungguh luar biasa besar. Berat cuyyy. Dan beruntunglah…
kalian adalah orang-orang terpilih itu.
Kedua, know yourself. Kenali dirimu,
sob. Karena hanya kalian yang tahu seberapa kuat kalian sanggup menahan beban. Coba
diperhatikan lagi, dengan kondisi sekarang misalnya, mana yang lebih utama
untuk dikerjakan. Dengan mempertimbangkan efeknya ke depan. Seberapa persen
kita ingin membagi fokus kita pada urusan akademik dan organisasi. Kapan waktu
untuk belajar, kapan waktu untuk berorganisasi. Kita yang lebih berhak untuk
mengatur ini, bukan orang lain. Karena kita yang akan menjalani, dan tentu yang
akan menuai hasilnya.
Kemudian, udah waktunya juga nih kita
perbaiki mindset dan attitude kita, baik terhadap organisasi, apalagi terhadap
kuliah (akademik). Kalau memang misal, dosennya kurang sreg di kita, coba deh
temukan cara lain supaya tetap interested dengan mata kuliahnya. Baca artikel,
buku-buku lain, belajar dengan audio-visual, atau diskusi dengan senior.
Sedikit cerita kalau boleh. Saya dulu
males banget ambil mata kuliah History of Civilization. Kalau bukan karena
requirement, ngga akan mau masuk kelas itu. Sudahh gitu, monoton abis deh
dosennya. At the middle of semester, I got totally lost. Lost of interest, dan
terlebih lagi… lost of my mark. Nilai-nilainya begitu mengenaskan. Saya lantas
sadar, ini ngga boleh dibiarkan, maka saya coba ganti strategi. Gimana caranya
supaya interest itu muncul kembali. Tinimbang ngandalin ceramah dosen, saya
ganti dengan nonton movie yang ada kaitannya dengan sejarah. Maklum, saya
termasuk ahli sufi (suka film). Ini salah satu sarana belajar saya. Setelah nonton
lalu analisa/diskusi. Jadi
sob, pilihan itu sebenarnya ada ditangan kita.
Nah,
sobat. Coba deh perhatikan. Highest award for best student (The Royal Education Award) di
IIUM itu diberikan kepada mahasiwa yang bukan hanya cemerlang di akademik saja,
tapi juga bersinar di organisasi. Udah gitu, attitude-nya juga keren. Nahh,
ini dia pemuda harapan bangsa. Seperti kata J-Vo:
Bokap kamu, nyokap kamu, tante kamu, pasti kan bangga
padamu..
Punya anak sudah cakep juga sholeh, prestasinya ok.. Ini dieee!!
#Nashid ABeGe
Ok, sob. Selamat menemukan kembali setengah jiwamu yang
hilang :)



0 comments:
Post a Comment