Monday, October 27, 2014

Ibu Menteri

Indonesia baru saja memiliki presiden yang baru. Begitu pula dengan jajaran menterinya. Satu yang menarik, karna kata orang cukup nyentrik, tentang sosok Menteri Kelautan & Perikanan, Ibu Susi Pudjiastuti. Dengan segala keunikan sebagai seorang beliau. Merokok, bertato, begitulah yang dikabarkan media.
Saya sadar, bahwa saya nda punya hak untuk menjudge seorang ib susi . Wong saya masih nda ada apa-apanya ketimbang beliau, dengan seabreg pencapaiannya yang luar biasa. Yang belum tentu saya juga bisa seperti itu. Really, don’t judge the book by its cover.

Err..mungkin memang banyak orang yang berpendidikan tinggi di Negara kita. Tapi ya mungkin mereka, jika dibandingkan dengan si ibu, belum terlaluu berpengalaman di bidang ini. Mungkin ini salah satu pertimbangan presiden yang sekarang. Bisa juga, karna ada sebenarnya orang yang selevel dengan si ibu (*baca berpengalaman, berprestasi, berilmu) tapi tidak Nampak oleh sang presiden. Yahh, mungkin... mungkin...
Saya stuju dengan kawan saya yang bilang bahwa, para pemimpin negri itu, sedikit banyak adalah cermin masyarakat bangsa tersebut. Meski juga wajah para anggota cabinet itu ngga bisa digeneralisir sebagai rata-ratanya pribadi bangsa secara umum (iki kok mbulet tho?)


Yang saya fikirkan sekarang adalah, betapa para guru, para pendidik, para orang tua, mulai saat ini akan semakin repot untuk melarang anak-anaknya untuk merokok. “lah wong bu menteri aja ngerokok tho pak”. Apalagi bertato (lah ya piye, kan mayoritas masyarakat kita adalah muslim). Pemimpin kan jadi panutan rakyat, anak-anak generasi masa depan.

Saya pribadi tidak membenci seorang ibu suci. saya justru kagum, beliau seorang pekerja keras, dan seorang perempuan mandiri. Hanyasanya, yang saya tidak suka adalah behaviornya, itu saja. It’s two different things. Bagi saya, semoga dengan diangkatnya menjadi seorang public figure, bisa membuat si ibu, dan pemimpin yang lain pada umumnya, untuk bisa lebih memperhatikan sikap, ucapan, dan pribadinya. Karna mereka sedang menjadi sorotan publik (*baca: panutan rakyat).


Apapun, Saat ini, kita sedang diuji Allah dengan kepemimpinan beliau-beliau ini, dan mereka pun sedang diuji dengan rakyat yang seperti kita. Mari, marii… kita doakan yang baik-baik untuk para pemimpin bangsa kita. 
Sungguh, mencela, menghina, mencibir, tidak akan membuat kita menjadi lebih dewasa. 

0 comments:

Post a Comment

 
;