Sunday, May 10, 2009

Visit Aceh 2009


Bukan tur yg luar biasa sebenarnya kegiatan ini,hanya sebuah liburan singkat pribadi semester 2 yg baru saja berlalu. Alih-alih mudik ke kampung halaman di Balikpapan, Kaltim, aku lebih memilih menjelajah kota serambi mekah itu yg pada tahun 2004 lalu sempat porak poranda akibat diterjang gempa tsunami. Beberapa teman pada komen,
“lo nih bukannya balik kampung malah keluyuran! Blom pernah pulang ke rumah kan?!”
Aqku nyengir…” yaaah,mo gimana lagi! Sudah begini takdirnya...”
“wuesss, awas kecantol ama orang sana lho!”, yg ini aku cuman mesam-mesem.
“eh, ati-ati,katanya GAM masih exist”, warning yg lain. (wah..jgn nakut-nakutin donk!)
Whatever deh, the show must go on! And here we go!!!

Kami landing di bandara Sultan Isakandar Muda tepat pukul 1 siang waktu setempat, artinya pada waktu yg sama, di kuala lumpur matahari sedang berada tepat dipuncak kepala, pukul 12.00 PM. Selama di aceh aq menginap di rumah k jannah. 3 hari pertama di banda Aceh, fiuuhhh…only one word I can say, it’s hot! Suerrr, puanaaas buanget!!! Katanya sekarang sih emang lagi musim panas. On the first day, aku dibawa muter2 kota banda naik motor. Buat pemanasan, gitu katanya! Hehe… 
guys, you know what, aku rada-rada takjub gitu! Karna ternyata, setelah ditinjau dan dipertimbangkan (haiah) kota ini, keadaaannya, situasinya penataan kotanya sekarang, ngga jauh beda ternyata dengan my small hometown, Balikpapan city. Wuiiih, keren! Berarti Balikpapan dah se-level donk dg ibukota propinsi. Luar biasa!(kumat narsisnya!) oya, kata ACEH sendiri sebenarnya kombinasi singkatan dari beberapa nama ras; Arab, Cina, Eropa & Hindia. Hmmm… pantes aja, kebanyakan keturunan asli aceh itu emang ok punya.      
Sungguh hampir aku ngga percaya, ketika kami berdiri didepan masjid raya Baiturrahman yg legendaris itu (haiah), yg konon ketika terjadi tsunami, gelombang hanya mengalir tenang melewatinya. Subhanallah… memang masjid ini beda dg yg lain. Ukirannya khas sekali. Hanya sayang, air mancur didepan masjidnya kandas, kering hingga kedasar kolam karena dihisap udara musim panas. sempat sebentar kami hang around disekitar masjid yg ramai dipenuhi oleh para pedagang. Hmmm… skalian bisa berburu oleh-oleh kaya’nya!
Tapi kok, banyak amat yg jualan sirih yak??? Masak sih penduduk banda aceh banyak yg manula?!  Rada bingung gitu diriku! Tapi, ternyata eh ternyata, sirih itu emang khas aceh, sobat! Sirih yg digulung, ditengahnya berisi campuran ramuan gula, pinang, kapur,dll, jadi rasanya rada unik gitu! Katanya,kalo ada tamu datang ke aceh, bingkisan kehormatannya pasti akan berupa sirih. Selain itu, Sirih juga bisa dijadikan sbg oleh2. (Tengggg.., masak sih aku ngasih oleh2 sirih buat temen2 dikampus???). anyway, apapun yg terjadi, aku ngga akan pernah mau makan sirih. No way!
Tapi, lah malah kena batunya! Waktu itu, perjalanan dari banda menuju ke kampung halaman k jannah di Sigli yg memakan waktu sekitar 3 jam dengan mengendarai mobil colt. Penumpang lain disebelahku adalah seorang ibu separuh baya. Kami sempat bercakap2, dan beliau agak terkejut saat tahu bahwa aq bukan penduduk setempat, yaah bahasa resminya sih seorang tamu. Ramah sungguh, hingga ketika mobil berhenti dan para penjaja makanan menghampiri, dengan sumringah dia membeli 3 bungkus sirih istimewa, Glekkk! Perasaanku g enak nih! Benar saja! kemudian tanpa tedeng aling-aling langsung disodorkan 1 kepadaku. Sedetik kemudian beliau mulai menodong. “Ayo dimakan dik! Dicoba, rasa sirih sigli itu beda dengan yg lain. Tau ngga dik, kalo ada tamu yg datang ke aceh, itu pasti langsung disuguhin sirih.” (nah lho, aku termasuk ya?!). 
Suerrrr, nyium bau sirih aja dah puyeng,palagi ngemut. Ya rabby… bagai makan buah simalakama. Maka, demi menghargai kebaikan sang ibu, akhirnya masuk juga segulung sirih istimewa ke mulut. Dan sudah bisa  kupastikan, nano nano rasanya, antara pedas, manis, mual, kelat dan bingung. Mo diapain lagi habis dikunyah. Kulirik si ibu, glekkk… sudah mencomot sirih yg ke2. Wahhh… ditelan???? Uiih… baru juga diemut dimulut perut sudah keras sekali melakukan aksi penolakan. Salah-salah, kalo ditelan bisa keluar semua isi perut. Tengggg…. Tengsin euyy! Dan Allah Maha MEngerti penderitaan hamba-Nya. Alhamdulillah, 15 menit kemudian ternyata kami sudah sampe didepan rumah. Maaf ibu, bukan tidak menghargai, tapi apalah dayaQ\ ini…
Di Sigli, suasana pedesaan sungguh terasa. Sawah, gunung, sungai, sumur, sapi dan kambing yg berkeliaran di jalan2, hmmm… khas sekali! Aku sempat dibawa ke sebuah universitas yg konon dulu termasuk jajaran papan atas di Aceh, namun kini nasibnya sungguh memprihatinkan. Kalo dilihat, sungguh, tidak menyangka bahwa Bangunan-bangunan yg berdiri disana adalah sebuah kampus dulunya. universitas Jabal Ghofur, begitu namanya, terletak di desa Gorut . Desa ini termasuk daerah konflik GAM yg  berbahaya. Aku sempat ngobrol dengan kak sariza, kawan kak jannah yg juga tinggal didesa tersebut.  dia mengaku, sampai sekarang masih ada sedikit trauma. Bahkan keponakannya yg ketika itu berusia baru sekitar 8 tahun, sekarang mengalami gangguan mental. Dia bercerita bagaimana tetangganya yg sekeluarga adalah pegawai negri, tewas dibunuh oleh GAM, tiap hari selalu ada mayat yg digotong lewat depan rumahnya, juga bagaimana suasana desa yg mendadak sepi bagai tiada kehidupan setelah sesi tembak-menembak antara GAM dan Tentara RI didepan rumahnya. Tapi Alhamdulillah katanya, tidak pernah ada korban peluru nyasar. Subhanallah… dan aq sungguh ngeri membayangkan bagaimana semua hal itu terjadi ketika kami mampir kerumahnya.
Dihari selanjutnya, kami kembali ke banda Aceh. Piknik ke Pantai, JJS di sekitar wilayah kampus IAIN Raniri dan UNSYAH, shopping di pasar Aceh, visit Museum, dan g lupa mampir ke book store sbg kunjungan wajib. Sempat juga melintas didepan tugu peringatan tsunami dan melihat boat besar fosil tsunami yg terdampar beberapa kilo meter ditengah kota akibat terbawa gelombang tsunami dulu. Karna terlalu besar dan berat, boat tersebut  akhirnya dibiarkan disitu.
Berbagai masakan Aceh juga sempat kucicipi, seperti bubur kanji Aceh, ikan kayu, kue timpan, mie goreng aceh, kuah pliu,
Sayangnya, a few last days, kesehataan drop. Mungkin karna terlalu kecape’an dan cuaca di aceh yg begitu panas (peralihan musim), Jadinya malah harus istirahat dirumah aja.
Lagi lagi… Ternyata, semua tidak seindah yg di bayangkan. Hal yg tak terduga terjadi ,hari jum’at, 1 mai yg seharusnya kami sudah kembali ke Malaysia, ternyata harus di cancel karna terlambat chek in. duh rabby…. Mau ngga mau, harus booking tiket lagi. Seharian nyari, ternyata udah ngga bisa lagi kalo mau take off dari aceh karna tiket dah habis. Yg ada harus ke medan dulu. Dan untuk ke Medan harus menempuh perjalanan sekitar 10 jam by bus, dg kondisi kesehatanku yg drop begini….??? Mana belum dapat subject  lagi untuk short sem, makanya berdasarkan planning, senin tu aku sudah harus ada dikampus.
yaah… akhirnya, Gunung Merapi meletus juga. Ya Allah…kok gini-gini amat sih jadinya... (mulai ngeluh! keluar deh manjanya…).
after all, untuk episod ini, memang bukan happy ending yg terjadi seperti yg diharapkan sebelumnya. But surely, smua da hikmahnya. Dan yg pasti, aku tetep g kapok kok untuk ngebolang rlagi. hmmm... Liburan depan kemana lagi ya?! (haiahhh)

0 comments:

Post a Comment

 
;