Thursday, May 17, 2012

Gembala domba dan Sang Penyeru kebaikan


Di satu sore ketika itu. beberapa orang gadis sedang duduk-duduk di bawah pohon.
“Tahukah kalian, mengapa sebelum diangkat menjadi Nabi dan Rasul, kebanyakan dari para utusan Allah ini adalah penggembala domba??? Diantaranya seperti Nabi Musa, Nabi Syuaib, Daud, bahkan Nabi junjungan kita Muhammad.”
Yang sering baca sirah biasanya menjawab, “Yaaah… yang pastinya untuk mencari nafkah kak”.
Yang lain nyeletuk, “Kali itu job paling bergengsi di waktu itu kak” toeng..toeng…
Ada lagi, “Mungkin juga kak, mereka ngga punya modal cukup untuk berdagang.” Lah???
“Mau berkebun ngga bisa kak. Tanahnya tandus.” Agak lumayan nih jawabannya. Gadis yang dipanggil kakak tadi tersenyum mendengar aneka jawaban tadi.
“Adik-adikku, tahukah kalian bahwa Baginda Rasulullah sendiri pernah berkata, Semua Nabi yang diutuskan Allah pernah mengembala kambing. Maka sahabat Baginda bertanya kepadanya: Engkau juga wahai Rasulullah? Lantas Baginda tnenjawab: Aku juga begitu.

“Ehmm, kak, kalau menurut saya itu karena mereka, para manusia pilihan Allah tersebut, ingin hidup berdikari, tidak mau tergantung dengan belas kasihan orang lain. Selagi mereka masih mampu untuk bekerja, dan itu halal, maka apapun akan dikerjakan. Yaah, salah satunya dengan menggembalakan kambing atau domba.”
Sang kakak tersenyum. “Penjabaran yang bagus ukhti. Benar. Tapi masih ada lagi penjelasan yang lain. Ada yang tahu apa itu??”
Para adik mengerutkan kening. Emang ada lagi?? Apa ya??
“Adik-adikku yang shalihah, pernahkah kalian berfikir, kenapa yang digembalakan itu kambing atau domba, bukan sapi?? Kenapa?? Ternyata eh ternyata… (deu, si kakak) Hikmahnya adalah karena rupanya ada persamaan karakter antara kambing dan manusia.”
Hahhh??? Pada melongo semua yang denger. Beberapa gadis sudah membuka mulut, siap protes kalau saja tidak keduluan sang kakak.
“Coba, kakak mau tanya, apa ada yang pernah berinteraksi langsung dengan hewan ini??”
Beberapa menggeleng, sisanya menunjukkan wajah enggan. Jijay deh kak, kira-kira begitu kali katanya dalam hati.
“Kalau kalian mau tahu, adalah lebih mudah sapi untuk diatur daripada kambing. Coba saja tarik si sapi maju kedepan, dia pasti nurut. Diseret ke samping, ngga nolak. Disuruh jalan, ya manut. Tapi si kambing, justru kebalikannya. Keras kepala alias sudah diatur! Di tarik maju, dia malah mundur bertahan. Di disuruh jalan, mogok. Disuruh mandi apalagi. Ogaaaah (pake logat kambing mengembik nih. hehe). Gitu kan?!”. Para adik ketawa. Si kakak mantan aktivis kandang ya, kok paham banget, begitu komen mereka. Tentu saja didalam hati only.
“Nah, begitu juga manusia. Disuruh makan yang halal, masih juga nyari yang haram untuk di konsumsi. Ditunjukkin jalan ke kanan, milih jalan yang ke kiri. Ngakunya muslim, tapi sholat aja susahnya minta tolong. Puasa ramadhan malah tega-teganya dengan sengaja ditinggalin padahal dia mampu aja. MasyaAllah… padahal intinya itu semua kan untuk kebaikan dia sendiri.” Jelas sang kakak berapi-api.
“Jadi kak, persamaannya di situ ya?! sama-sama susah diatur?!”. Si kakak mengangguk.
“Iya. Nah, jadi pekerjaan menggembala kambing ini sebenarnya bisa dikatakan sebagai sarana latihan para Nabi dan Rasul untuk bagaimana nanti mereka akan berhadapan dengan target dakwah yang sesungguhnya, yaitu manusia yang justru lebih keras kepala dari si kambing. Latihan mengatur kambing, baru latihan mengatur manusia. Dan tentu saja ini tidak hanya membutuhkan kesiapan fisik dan mental semata. Tapi akal juga.”
Para adik yang mendengarkan serentak manggut-manggut. Bagitu rupanya…
“Berarti kak… sebelum jadi kyai, ustadz atau da’i, seharusnya beliau-beliau itu juga menggembalakan kambing dulu dong ya???”
Toeng…toeng…

0 comments:

Post a Comment

 
;