Sunday, April 22, 2012

Sekelumit untuk adinda...gerimis


Belakangan ini aku selalu mencari-cari sosoknya. Sungguh, rindu sekali ingin berjumpa. Dimanakah kau berada, sahabatku? Adindaku?
Telponku tak diangkat. Sms tak terbalas. Sapa twitter pun masih sunyi. Ada apa gerangan ini? Aku khawatir. Maka kutitipkan tanya dan sapa pada siapa saja yang sekira akan berjumpa dirinya. Dan kali ini, banyak pula yang menanyakan dirimu.
Waktu pun berlalu. Namun keadaan masih sama. Sunyi. Allah, tolong beri jawaban.
Dan hari itu, di bawah kubah rumah-Nya, kabar itu datang tiba-tiba. Bagai disambar petir rasanya. Tajam sekali isi berita; ‘Kau telah pergi!’ Allahu Rabby…
Mengapa tak ada berita? Mengapa begitu cepat? Mengapa kau bahkan tak berbagi kisah seperti biasa? Bukankah sedikit lagi kau sampai sahabatku? Sebentar lagi. Mengapa kau tidak mau menunggu sejenak lagi.
Hatiku gerimis. Berkerut pelipis. Ada amarah dan kejengkelan. Menyalahkan diri sendiri yang tidak perhatian. Mengapa tidak peka keadaan saudaramu? Astaghfirullah…

Masih teringat saat kita duduk bersama makan berdua malam itu dipojok kamar. Terlintas pula memori sewaktu kita menghabiskan libur bersama. Atau ketika kita jalan berdua dan berbagi cerita. Lantunan tilawahmu, dendang suaramu, alunan nada bicaramu, ahhh…
Padamu aku  belajar tentang keistiqomahan, kelembutan, ketulusan. Dirimu yang polos, selalu membuatku geli dan membahana. Saling menimpali, saling membalas canda. Duhai, cerianya dunia saat bersama.
Dalam jeda, aku mencoba membongkar makna. Kau pergi, tentu karena cintamu pada keluarga. Dan ah..bukankah kau itu pemalu? Mungkinkah kau malu bercerita padaku? Pada kami saudaramu? Sungguh. Sekiranya kau mau membagi, insyaallah akan kami lakukan yang terbaik untukmu semampu. 
Namun ternyata, segalanya memang sudah diatur. Tak sanggup membayangkan saat kau terima keputusan itu. Aku tahu, dirimu berat. Tapi engkau ridho. Allah..tolong kuatkan dia. Tolong berikanlah buah termanis untuk kesabaran dan baktinya pada-Mu.
Agak tersedak aku mengingat. Saat itulah, di konferensi beberapa minggu lalu, itulah terakhir kali kita bertatap muka dan bersalaman. Teringat senyummu, Duh Rabby…gerimisku kian menderas. Sudah menjadi genangan rupanya.

Adinda…
Maafkan kami yang tidak ada disampingmu, saat kau sedang terbata melangkah.
Maafkan kami, yang masih lancang berburuk sangka saat tak terdengar kabar berita
Maafkan kami, atas segala khilah selama ini.
Meski terpisahkan oleh jarak, Hati kita tetap bersatu dalam Kasih-Nya.
Insyallah..suatu hari nanti kita akan berjumpa lagi di belahan bumi-Nya yang lain.
Atau seperti kata mereka, sampai berjumpa di Surga-Nya.
Uhibbuki fillah ya ukhty...fiiamaanillah..

0 comments:

Post a Comment

 
;