Duhai bapak yang dihormati…
Kenapa begitu tega kau menyakiti kami,
Anakmu, generasi bangsa ini...
Sungguh ... kami sangat hormat padamu,Pada segala atribut yg kau sandang,
Yg memberi tahu kami dalam diam, bahwa kau adalah seorang putra kebanggaan bangsa, harapan pertiwi, yg bersedia, rela bersusah payah mengatur kami, juga negara ini, agar tetap hidup dan berdenyut.
Tidakkah kau lihat mata kami yg penuh kekaguman mendengarkan pidato dan ucapanmu yg indah sekalipun kami tak mengerti.
Ah... betapa pandainya engkau! Dada kami bergemuruh, seolah mendengar lagu indonesia raya digaungkan diseluruh negri.
Lalu kami berlari mendatangi ibu bapak kami yg sedang menunggui warung pecel kecil kami yg sepi.
Dan dengan lantang berkata: pak, bu, kalo sudah besar nanti, kami ingin jadi presiden, atau menteri, bupati, juga gubernur.
Sambil telunjuk ini menunjuk gambarmu yg sedang berbicara di TV, didepan puluhan orang yg juga mendengarmu berbicara.
Tapi sungguh mengherankan. Ibu bapak kami justru menggeleng.
Jangan jadi seperti mereka,nak!
Kau lihat kan, kemarin anak tetangga sebelah yg meninggal gara-gara tidak boleh masuk rumah sakit?! Mereka tidak punya uang, makanya mereka diacuhkan. Itu ulah mereka!
Tunjuk ibu ke televisi buruk kami.
Dan lihat bapak sekarang! Kali ini bapak yg berbicara.
Tidak bekerja, karna becak bapak disita. Katanya bapak mengganggu ketertiban kota. Dan sekarang tidak punya uang, bahkan untuk membeli sekilo beras untuk kita makan. Dapat uang BLT pun kemarin ya disunat. Maka... lihat nasib kita sekarang, nak! Ucap bapak sedih.
Mata kami menatap heran. Benarkah orang yg kami kagumi tadi yg berbuat ini semua pada kami??? Engkaukah pak menteri???
Paman datang!
Le, nduk, kalo pingin jadi menteri, bupati, bukankah harus sekolah dulu??
Nah... lihat sekarang! Apa kalian sekolah?? Kami tidak mampu menyekolahkan kalian karna biayanya mahal. Sekolah hanya untuk orang2 yg berduit. Bukan kita!
Kami tau, paman sebenarnya pandai karna dulu selalu jadi juara kelas. Tapi sayangnya, karna menunggak uang SPP 5 bulan dan tidak sanggup membayar uang ujian, maka paman terpaksa harus mengubur dalam-dalam impiannya menjadi dokter, dan kini jadi pedagang tape keliling.
Kemudian, tiba-tiba tayangan TV berubah. Kini menampilkan berita yg membuat kami kaget bukan main.
Disana, ada wajahmu pak menteri! Wajah yg kami kenal sebagai orang yg pintar dan kami kagumi. Tapi bukan pidato gagahmu yg kami dengar.
Itu! Kakak-kakak mahasiswa berteriak-teriak marah padamu. Mengepalkan tangan mereka dengan raut wajah penuh benci dan amarah.
Korupsi, skandal, dan entah apalagi yg mereka katakan padamu,kami tak paham kata-kata itu. Dan kami lihat kali ini, engkau tertunduk sambil berjalan digiring polisi.
Kenapa pak?? Ada apa ini??
Itu nak! Itulah mereka perbuat kalau kau mau tahu. Ibu berdiri disamping kami.
Mereka ditangkap karena ketahuan merampok uang rakyat diam-diam. Uang kita, uang yg disimpan negara untuk kita. Juga berzina dan menipu negara. Kita dikhianati, nak!
Ya tuhan! Berzina?? Merampok?? Bukankah itu dilarang agama,pak?? Dan itu perbuatan yg dimurkai Allah?? Begitu yg diajarkan pak haji pada kami setiap selesai mengaji disurau. Apakah kau tak tau tentang itu, pak menteri??
Terdengar suara salam dari depan rumah. Itu kakak kami datang. Baru pulang dari mencari sampah. Ya! Kakak adalah seorang pemulung!
Beberapa detik kemudian, salam terdengar lagi. kali ini suara orang dewasa yg terdengar cemas.
Pak, bu, sudah dengar belum, kampung kita ini katanya akan digusur. Ada proyek pembangunan mall rencananya disini nanti.
Serentak, para orang dewasa dirumah kami sudah sibuk dengan pembicaraan itu.
Dan kami... masih disini memandangi gambarmu di TV, pak menteri.
Duhai... kenapa begitu kejam dirimu???
Telah kau bunuh kepercayaan dan kehidupan kami yg kecil ini.
Kau terlantarkan kami hingga terseok-seok mengais hidup.
Perlahan... kami menangis... terluka... kecewa...
*ungkapan kecewaku pada pak pejabat yg "bermasalah".


0 comments:
Post a Comment