Tuesday, April 9, 2013

Bagaimanakah Para Ortu Yahudi mengajari anak Membaca??

Ada yang menarik di kelas hari ini. Diawali dari sebuah pertanyaan oleh sang dosen,
“You guys, do you know how the Jewish parent teach their children to read?”
Membaca? Memangnya bagaimana mereka mengajarkan anak-anak untuk membaca? Berbedakah dengan yang lazimnya dilakukan? Mengeja huruf, atau mengelompokkan bunyi. Apakah mereka membaca dengan cara membalikkan buku? Atau mereka punya metode khusus? Gimana?
Mari perhatikan percakapan seorang ayah dengan anaknya yang baru berusia 5 tahun ini.
“Nak, hari ini ayah izinkan kau pergi ke rumah tetangga kita Mr. Smith, di ujung desan sana. Bahkan kau boleh berada disana hingga sore hari, sebelum matahari terbenam. Dan ketika pulang nanti, ceritakan pada ayah semua hal yang kau tahu, yang kau dapat tentang Mr. Smith”
Nah, sodara…beginilah cara orang tua yahudi mengajarkan kepada anak-anaknya bagaimana cara ‘membaca’.
Kalian bingung? Coba dipahami lagi skenario diatas. Masih bingung?
Ok. Jadi begini. Ketika ditanya apa itu definisi membaca, apa kiranya jawaban kalian?
“ya tentu saja mengeja kata atau kalimat. Mengenal symbol dan pola, memahamai arti dari sebuah kata/kalimat, ya seperti itulah”. Secara umum, biasanya jawaban kita seperti ini kan?!
Nah…inilah yang membedakan kita dengan skenario diatas. Bagi orang tua yahudi, membaca itu sebenarnya memiliki makna yang lebih luas.
Reading = Exploring = Enquiry = Describing = Experiencing
Maka, membaca itu sama artinya melakukan penelitian, bereksperimen, menjelajah, mencari, mengamati, menerangkan, merasakan, menyentuh, dsb.  Membaca, bukan berarti hanya duduk manis di depan buku. Membaca itu bergerak aktif.
Dengan cara Membaca seperti ini, banyak hal yang akan didapat anak. Kemampuan mengamati (observasi), kemampuan menyerap dan mengolah informasi, kemampuan bercerita/menerangkan (speech), melatih aspek motorik (melatih gerak), hingga penanaman moral value (contoh: adab dalam bertamu, menghormati orang tua). Dan tentunya anak akan merasa senang! inilah filosofi yang kelak tertanam pada diri si anak; “Belajar itu menyenangkan!”. Yang akhirnya akan membentuk pribadi suka belajar atau membaca.
Kembali pada skenario ayah & anak tadi. Sang Ayah sedang mengajari si anak untuk membaca, seperti apakah Mr. Smith itu. Banyak hal tentu yang bisa dilaporkan pada sang ayah. Tentang Mr. Smith, tentang keadaan rumahnya, tentang apa yang dilihat sepanjang perjalanan, dsb. Ini juga dapat digunakan untuk melatih anak untuk berfikir kritis dan kreatif. Misalnya:
“mengapa Mr. Smith suka menanam bunga di halaman rumahnya? Menurutmu, apa yang terjadi jika semua orang suka menanam bunga atau pohon seperti Mr. Smith?”
Sungguh menarik, bukan?!
Dan yang lebih menarik lagi, metode membaca seperti ini sebenarnya sudah diajarkan Islam bahkan sejak turunnya ayat pertama, Iqro’! Sebagian ulama berpendapat bahwa ayat ini memiliki arti senada dengan ayat ‘afalaa tatafakkaruun’… tidakkah engkau berfikir.  ‘afalaa tubshiruun’ … tidakkah engkau melihat/mengamati? (observasi), dsb. Maka, inilah makna Membaca yang sebenarnya. Dan beginilah cara para ilmuwan muslim zaman keemasan Islam dahulu Membaca dan Belajar.

0 comments:

Post a Comment

 
;