Wednesday, April 17, 2013

Analogi jualan Donat & Dakwah


Tok…tok...tok…


“Assalammu’alaikum”, sesaat kemudian terdengar langkah ringan menuju pintu.  

“Sis, do you want to buy some doughnuts?”, ucap kami ketika daun pintu terkuak.

Ada yang membeli, tapi tak sedikit pula yang menolak ketika ditawari. Kulirik jam tangan. Pukul 11pm. Yahh, maklumlah. Ini sudah hampir larut malam. Selain sudah pada makan malam, tentu saja orang-orang tengah bersiap untuk tidur. Paling hanya segelintir saja yang masih terjaga. Namun biarlah, yang penting kami sudah berusaha.

Lohh?? Jualan kok tengah malam? Salah timing tuh!


Sebenarnya ini terjadi di luar rencana. Dan sesungguhnya pula, ini sama sekali bukan agenda kerjaku. Berdirinya diriku disini sebenarnya adalah lebih karena ingin menolong sang sahabat. Ceritanya, sahabatku ini sedang terlibat dalam kepanitiaan sebuah acara mahasiswa di kampus. Pada saat ini, dia dan para panitia yang lain sedang sibuk-sibuknya mencari dana untuk pembiayaan acara tersebut. Salah satunya ya dengan jualan donat seperti ini. Berdasarkan penuturan dia, biasanya donat-donat yang mereka jual selalu habis. Namun entah, kali ini rupanya agak berbeda. Selepas Isya, masih ada lebih dari 30 donat tersisa. Kalau di jual besok pagi, sepertinya sih masih bisa. Karena donat ber-merk semacam ini biasanya kaya akan bahan pengawet. Namun kami khawatir saja, kalau-kalau esok hari ketika di makan konsumen, donat itu membuat ulah. Maka, daripada mengambil resiko yang lebih berbahaya, nekad mereka menjual donat-donat itu malam ini juga. Apapun yang terjadi. Maka usaha yang akhirnya dilakukan adalah menjual donat door to door, dari asrama ke asrama.   

Tak tega rasanya membayangkan sahabatku tadi berkeliling dari satu kamar ke kamar lain, sendirian berjualan donat di malam yang sudah larut ini, maka kutawarkan diri untuk membantunya. Aku tahu, dia sudah cukup lelah berjalan sepanjang hari tadi bersamaku untuk mengurus satu hal di luar kampus. Namun dia pun tak sanggup menolak, ketika tadi tiba-tiba diminta untuk ikut berjualan. Maka disinilah aku berada. Mengetuk pintu-pintu kamar asrama dan menawarkan donat pada penghuninya. Peluh bercucuran. Kaki pegal-pegal. Penat tentu saja. Naik turun bangunan 4 tingkat, dan mendatangi hampir 70 kamar asrama, bagaimana tidak gempor?? Tapi tidak ada kata ‘kembali ke kamar’ sebelum semua donat laku terjual. Sebenarnya, kami bisa saja membeli beberapa donat itu untuk diri kami sendiri, salah satu cara untuk mempercepat proses penjualan. Namun perut kami sudah tidak sanggup menerima. Karena kami pun baru saja makan malam, dan di tas masih ada ‘oleh-oleh’ yang juga harus dihabiskan. Maka maafkan…

“Assalammu’alaikum”, ucap kami seraya mengetuk pintu.
Suara kami terdengar menggema di seluruh bangunan asrama. Aku yakin, sekalipun pintu yang di ketuk itu di lantai 1, orang yang berada di lantai 4 pasti juga akan mendengarnya. Saking sepinya suasana.
“Do you want to buy some doughnuts?”, Beberapa menggeleng. Ada yang awalnya tertarik, hingga membuat kami sumringah, namun pada akhirnya urung membeli.
“OK . Thank you. Sorry for disturbing you”, pamit kami sembari beranjak ke pintu lain. Tetap berharap bahwa di pintu selanjutnya, beberapa donat akan segera berpindah tangan. 

Dan seketika, tiba-tiba saja aku teringat tentang satu kisah indah yang alur ceritanya hampir senada dengan episode malam ini. Kisah lelaki yang ditugasi untuk menyebarkan risalah di sebuah kota baru. Ia datangi setiap rumah penduduk. Dikisahkan bahwa tak ada satu pintu pun di kota tersebut yang tak ia ketuk. Bayangkan! Ada berapa rumahkah dalam satu kota itu?! Dan itu ia kunjungi satu persatu. Yang ia bawa sungguh suatu yang indah. Amanah yang mulia. Yang bahkan gunung menjulang saja menolaknya. Ya, ia membawa kalimah tauhid. Lelaki ini sungguh santun budinya, amat menawan tuturnya, dan anggun perawakannya. Namun tetap saja, masih ada yang menolak. Sungguh, dakwah itu memang berat. Maka terpujilah lelaki ini. Dialah Mush’ab bin Umair.

Sama seperti episode Jualan Donat kali ini. Ternyata, berdagang itu sama beratnya dengan berdakwah. Sama-sama membutuhkan perjuangan yang luar biasa, sudah begitu, tetap tak terduga hasilnya. Kami tidak tahu, di pintu yang manakah donat di tangan kami ini akan terjual. Siapa sangka, di kamar yang terlihat gelap dan sunyi, justru disitulah donat-donat kami disapa pembeli. Siapa sangka, bahwa orang yang berwajah ketus pada awalnya, karena merasa terganggu, justru menjadi pembeli yang menyenangkan. Sungguh, betapa Allah sangat Kuasa untuk menggerakkan hati hamba-hamba-Nya. Dan Sungguh, hidayah itu adalah milik Allah sepenuhnya. Tugas kita hanyalah beramal, dan berusaha dengan sebaik-baik cara.



0 comments:

Post a Comment

 
;