Ketika misalnya, sang
guru memerintahkan muridnya untuk melakukan sesuatu, tanpa disertai penjelasan,
hingga akhirnya sang murid bertanya, mengapa ia harus melakukan itu, apakah itu
salah?
Atau saat sang prajurit
mendapat titah dari komandannya untuk melaksanakan satu perintah, lagi, tanpa
dibarengi dengan keterangan apapun, lantas sang prajurit bertanya, mengapa saya
harus mengerjakan ini, apakah dia salah? Sudahlah, jalankan saja. Tidak perlu
banyak tanya.
Atau satu kali, sang ibu
menyuruh anaknya untuk mengerjakan satu hal, hanya berbekal perintah, kerjakan
ini, dan jangan banyak tanya! Ketika akhirnya tidak mau mengerjakan perintah
sampai sang anak tahu alasan mengapa dia harus mengerjakan perintah, apakah ia layak
disebut pembantah? Bandel?
Ketaatan jundi pada
qiyadah (deuuh, bahasanya), benarkah selalunya dalam bingkai ketaatan penuh?
Ketaatan penuh, yang bercirikan patuh mengerjakan apa yang telah diperintahkan
tanpa banyak tanya. Tanpa perlu tahu alasan
mengapa ia harus melakukan itu. Apakah begini ciri seorang jundi yang baik?
Jika iya, maka ini bisa menumbuhkan sebuah penyakit yang disebut taqlidul a’ma
(ketaatan buta). Jiwa kritis sang murid/prajurit/anak dibabat habis dengan satu kalimat perintah; “lakukan saja, jangan banyak tanya”. Ketaatan buta akan melahirkan fanatisme. Yang berbahaya adalah ketika fanatisme ini akhirnya membutakan mata hati, tidak lagi bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak, terhadap apapun yang diperintahkan/dilakukan atasannya. Maka kemudian muncullah pengkultusan Atasan.
Satu ucapan dari guru
saya yang
begitu membekas hingga sekarang, “to be critical is to try to understand the
world. To understand is to find reasons why things are the way they are (prof. Yedullah
kazmi)
Kembali
kepada contoh diatas, tentu kita tidak ingin di cap sebagai pembantah. Tapi di
satu sisi kita juga ingin mengetahui, mengapa kita harus melakukan perintah itu
(taat).
Ahh,
sepertinya kita juga harus tahu ya, kapan saatnya untuk taat penuh, tanpa ba bi
bu, dan kapan waktunya kita bertanya kenapa. Lihat situasi & kondisi. Lihat
lagi seberapa penting instruksi yang diberi. Terlebih lagi, lihat seberapa
penting pertanyaan kita untuk diluncurkan.
Kepada
para pemegang otoritas, ketika misalnya anda menemukan bawahan atau anggota
anda seperti ini, harap jangan langsung di cap pembangkang. Dia hanya sedang
mencoba untuk memahami. Karna ia termasuk orang yang tidak akan melakukan
sesuatu, hingga ia mengerti mengapa atau apa yang akan dilakukannya itu. Dan
ketika ia sudah paham, maka totalitas-lah yang akan keluar dari dirinya.
Dan
untuk sang eksekutor, sang penerima serta pelaku komando , kiranya kita juga
harus tau diri, kapan saatnya boleh bertanya, dan kapan saatnya ketaatan penuh
harus diberikan, ketika menerima satu perintah/arahan/instruksi/dsj. Kita tentu tidak ingin menjadi seperti bani israil kan? yang gara-gara suka (atau malah banyak) bertanya ketika diperintah Nabi Musa untuk mencari sapi, yang akhirnya malah bikin susah sendiri.
Mari jadi orang yang lebih bijak, ratih (*talk to my self)


0 comments:
Post a Comment