Friday, May 16, 2014

Karna saya bukan mereka

“Kita semua sama-sama di kasih jatah waktu 24 jam sehari. Sama-sama dikasih panca indera lengkap. Alhamdulillah. Jadi ngga ada alasan untuk ngga bisa, sementara orang lain bisa. Kalau dia bisa jadi penulis buku terkenal, ya kita juga bisa”.
Jujur, saya masih sering ngga setuju dengan cara berfikir yang begini. Ok lah, sebenarnya ini adalah bentuk sebuah dorongan. Motivasi untuk menjadi diri yang lebih baik. Dengan banyak melakukan hal-hal positif dan menjadi sosok nyata dari slogan ‘khairunnaas ‘anfauhum linnaas’.
Tapi bagi saya, yang terasa justru sebaliknya. Ada pesan tersirat dari kalimat itu. Terkesan seolah seperti membandingkan diri kita dengan orang lain; ‘kamu kok ngga bisa kayak dia sih? Sukses, aktif, hebat, bisa begini begitu, dan bla bla bla…
Ketika saya bilang ini, orang bisa balik nyambit; ‘tuhh…excuse lagi kan kamu. Diajak jadi orang yang lebih baik, ada aja alasannya”.
Macettt dah! Seriously! Ini kok malah jadi kayak saling membela diri dan menyerang ya??
Jujur, saya sering ngerasa iri dengan orang yang tentunya lebih hebat dari saya. Temen saya, ada yang dengan mudah dapet nilai a. Ada juga yang eksis banget dengan berbagai organisasi yang dia ikut, sementara nilai kuliah tetap cemerlang. Iri dengan penulis buku. Kok bisa sih bukunya udah segitu banyak. Seperti sekarang, saya sedang jealous dengan para debaters iium. Hampir tiap bulan, bahkan pernah tiap minggu, ikut pertandingan debat kesana kemari, dikirim ke luar negri, semua difasilitasi. Kalo bicara, sekalipun wajahnya melayu, tapi ketika berkata-kata, they’re truly change. Ketika berdebat, argumentasinya, duh..intelek sekali. Kok bisa ya mereka jadi gitu?
Atau yang lain. Dengan begitu mudahnya menelurkan paper, jurnal ilmiah, ikut conference, present paper. Luar biasa deh pokoknya.
Seorang lagi, begitu luwes jemari tangan dan imajinya, hingga bisa menari diatas kertas. Dan tadaa… semenit berikutnya muncullah gambar-gambar indah disana.
Orang-orang hebat itu, membuat saya jadi iri, kenapa mereka bisa sehebat itu. Dan bingung, kenapa saya kok nda bisa seperti mereka ya.
Iya bener, saya dikasih waktu yang sama, 24 jam/hari. Alhamdulillah, panca indera lengkap.  But why can’t just i?

Dan ternyata saya sadar, bahwa memang kita semua ini tidak sama. Saya dan mereka memang berbeda (ada perbedaan). Bukankah setiap kita ini unik. Iya, kita sama, dalam beberapa hal. Tapi kita juga berbeda diberbagai hal. Kita punya ketertarikan yang berbeda. Kita berasal dari keluarga yang tidak sama. Latar belakang pendidikan, budaya, nilai-nilai yang dianut, dan cara kita memandang dunia, tentu tidak semuanya serupa. Ada yang memang dikarunia kemudahan untuk menggambar apapun, ada yang tidak, seperti saya. it's just awful to see my drawing. Ada yang lebih cakap ketika berbicara ketimbang menulis. Ada yang Supel, mudah bergaul dengan sapa saja (ekstrovert), ada yang memang nyamannya ya jalan sendiri saja. 

And that makes me, makes us just different from others. Ngga bisa disamakan, terlebih lagi dibanding-bandingkan dengan yang lain. Masing-masing kita ada pos-pos yang sudah ditetapkan. Ada yang menjadi penyanyi. Ada yang menjadi ilmuwan, ada yang penjahit baju, ada yang menjadi guru, ada yang menjadi atlet, ada yang menjadi direktur bank, dan ada yang menjadi pengatur negara. 

Ada benernya kata bang bruno mars; because you’re amazing. Just the way you are.

0 comments:

Post a Comment

 
;