Wajah wajah itu menatap ke arah jalan raya di depannya yang
hilir mudik dengan berbagai jenis kendaraan. Sendu sekali. Sementara
dipangkuannya, dan di keduatangannya penuh dengan bungkusan-bungkusan plastik kecil
berisi panganan untuk dijual. Bermacam-macam. Ada tahu goreng, kacang rebus,
atau jajanan pasar lainnya. Hari masih pagi, namun panas matahari sudah mulai
terasa memanggang kulit. Ditambah pula dengan debu-debu yang berterbangan
dibawa angin kering. Duh, suram sekali wajah negri ini.
Dan sosok-sosok itu masih duduk disana, masih dengan tatapan
kosong namun masih ada sedikit asa disana. Yang hadir bersama munculnya lampu
merah dan sepanjang antrian kendaraan yang berhenti. Sigap mereka akan berlari,
menawarkan dagangannya yang tidak seberapa itu kepada siapapun yang sedang terjebak
lampu merah. Hanya menjajakan, tidak memaksa.
“tahu nya mbak.. Mas..” “kacang rebus pak.. Bu”.
Dan untuk yang kesekian kalinya, diri ini hanya bisa
memunculkan senyum sambil menggeleng lemah tanpa suara. Namun di dalam hati
mengutuki diri sendiri.
“kenapa disaat-saat seperti ini justru malah ngga ada uang
pecah di dompet. Kenapa sih aku selalu lupa nyiapin uang receh kalo lagi
safar?? Why?”, batin menjerit nelangsa, sambil meminta maaf, masih, di dalam
hati.
Di lain waktu, masih dengan kondisi yang sama, terjebak
berhenti di lampu merah, hanya kali ini agak sedikit berbeda. Ada beberapa uang
pecah di dompet. Dan hasrat hati ingin membeli dagangan penjual asongan itu.
Selain ingin mencoba mencicipi panganan yang dijajakan, niat hati juga ingin
sedikit membantu kondisi perekonomian mereka hari itu. Hanyasanya…
“jangan mbak. Kita ngga tahu jaminan kebersihan makanan itu”.
Atau… “jangan beli air minum kemasan di jalanan. Sebab bisa
saja itu bukan yang asli. Mereknya aqua tapi ternyata air keran”.
Dan sederet nasihat lainnya.
Untuk yang kesekian kalinya, saya ingin menangis. Ya rabb…sebegini
sulitnya kah untuk membantu mereka? Sedih sekali bila melihat hari sudah mulai
tua, tapi barang yang dijual belum ada bahkan setengahnya. Berapa-lah hasil
dari penjualan mereka sehari ini? Cukupkah?
Saya belum terbiasa dengan pemandangan seperti tadi.
Pengalaman perjalanan dari surabaya ke kediri baru dirasakan beberapa kali ini,
masih dalam hitungan jari sebelah tangan. Maklum, sejak kecil hingga dewasa saya
tinggal di hutan (sebutan lain untuk pulau kalimantan, oleh sebagian orang). Meski
sebenarnya ya bukan hutan. Di kalimantan timur, tempat kami tinggal selama ini,
jujur, saya sangat jarang sekali melihat pedagang asongan di jalanan seperti di
jawa ini. Pengemis… jumlahnya juga masih sangat minim.
Ataukah Ini…saya saja yang
ngga tahu ya??
Sepanjang saya hidup di borneo, alhamdulillah, penduduknya rata-rata
hidup makmur dan berkecukupan. Terutama di balikpapan, tempat kami pernah
berdomisili. Jadi saya benar-benar mengalami cultural shock ketika mulai
mengenal wajah kehidupan di pulau jawa, khususnya jawa timur. Di lampu merah,
anak-anak kecil masih berkeliaran dengan kotak asongannya. Ada juga yang
membawa alat musik (kalau itu memang layak di sebut alat musik) untuk mengamen.
Padahal… hari sudah malam. Ibu-ibu sambil menggendong bayinya, tampak lelah dan
kucel, terpoles oleh debu dan keringat seharian, masih wira-wiri menjajakan
dangannya selepas senja. Dulu, saya hanya melihat pemandangan seperti ini hanya
di layar tv. Tapi sekarang, itu hadir di depan mata. Dan itu rasanya…
jleb..jleb..jleb. Rabby…sebegini kerasnya kah kehidupan diluar sini? Kemana
saja saya selama ini?? Rasa sedih, marah, entah kenapa, bercampur menjadi satu.
What should I do? How can I help them? Ini masih jadi pe-er
buat saya. Buat kita semua.
#CatatanSafar



0 comments:
Post a Comment