Sunday, August 10, 2014

Potret Negri di Lampu Merah

Wajah wajah itu menatap ke arah jalan raya di depannya yang hilir mudik dengan berbagai jenis kendaraan. Sendu sekali. Sementara dipangkuannya, dan di keduatangannya penuh dengan bungkusan-bungkusan plastik kecil berisi panganan untuk dijual. Bermacam-macam. Ada tahu goreng, kacang rebus, atau jajanan pasar lainnya. Hari masih pagi, namun panas matahari sudah mulai terasa memanggang kulit. Ditambah pula dengan debu-debu yang berterbangan dibawa angin kering. Duh, suram sekali wajah negri ini.

Dan sosok-sosok itu masih duduk disana, masih dengan tatapan kosong namun masih ada sedikit asa disana. Yang hadir bersama munculnya lampu merah dan sepanjang antrian kendaraan yang berhenti. Sigap mereka akan berlari, menawarkan dagangannya yang tidak seberapa itu kepada siapapun yang sedang terjebak lampu merah. Hanya menjajakan, tidak memaksa.
“tahu nya mbak.. Mas..” “kacang rebus pak.. Bu”.
Dan untuk yang kesekian kalinya, diri ini hanya bisa memunculkan senyum sambil menggeleng lemah tanpa suara. Namun di dalam hati mengutuki diri sendiri.
“kenapa disaat-saat seperti ini justru malah ngga ada uang pecah di dompet. Kenapa sih aku selalu lupa nyiapin uang receh kalo lagi safar?? Why?”, batin menjerit nelangsa, sambil meminta maaf, masih, di dalam hati.


Di lain waktu, masih dengan kondisi yang sama, terjebak berhenti di lampu merah, hanya kali ini agak sedikit berbeda. Ada beberapa uang pecah di dompet. Dan hasrat hati ingin membeli dagangan penjual asongan itu. Selain ingin mencoba mencicipi panganan yang dijajakan, niat hati juga ingin sedikit membantu kondisi perekonomian mereka hari itu. Hanyasanya…
“jangan mbak. Kita ngga tahu jaminan kebersihan makanan itu”.
Atau… “jangan beli air minum kemasan di jalanan. Sebab bisa saja itu bukan yang asli. Mereknya aqua tapi ternyata air keran”.
Dan sederet nasihat lainnya.
Untuk yang kesekian kalinya, saya ingin menangis. Ya rabb…sebegini sulitnya kah untuk membantu mereka? Sedih sekali bila melihat hari sudah mulai tua, tapi barang yang dijual belum ada bahkan setengahnya. Berapa-lah hasil dari penjualan mereka sehari ini? Cukupkah?

Saya belum terbiasa dengan pemandangan seperti tadi. Pengalaman perjalanan dari surabaya ke kediri baru dirasakan beberapa kali ini, masih dalam hitungan jari sebelah tangan. Maklum, sejak kecil hingga dewasa saya tinggal di hutan (sebutan lain untuk pulau kalimantan, oleh sebagian orang). Meski sebenarnya ya bukan hutan. Di kalimantan timur, tempat kami tinggal selama ini, jujur, saya sangat jarang sekali melihat pedagang asongan di jalanan seperti di jawa ini. Pengemis… jumlahnya juga masih sangat minim. 
Ataukah Ini…saya saja yang ngga tahu ya??

Sepanjang saya hidup di borneo, alhamdulillah, penduduknya rata-rata hidup makmur dan berkecukupan. Terutama di balikpapan, tempat kami pernah berdomisili. Jadi saya benar-benar mengalami cultural shock ketika mulai mengenal wajah kehidupan di pulau jawa, khususnya jawa timur. Di lampu merah, anak-anak kecil masih berkeliaran dengan kotak asongannya. Ada juga yang membawa alat musik (kalau itu memang layak di sebut alat musik) untuk mengamen. Padahal… hari sudah malam. Ibu-ibu sambil menggendong bayinya, tampak lelah dan kucel, terpoles oleh debu dan keringat seharian, masih wira-wiri menjajakan dangannya selepas senja. Dulu, saya hanya melihat pemandangan seperti ini hanya di layar tv. Tapi sekarang, itu hadir di depan mata. Dan itu rasanya… jleb..jleb..jleb. Rabby…sebegini kerasnya kah kehidupan diluar sini? Kemana saja saya selama ini?? Rasa sedih, marah, entah kenapa, bercampur menjadi satu.

What should I do? How can I help them? Ini masih jadi pe-er buat saya. Buat kita semua.    


#CatatanSafar  

0 comments:

Post a Comment

 
;