Oleh Ratih Febrian
LGBT
itu epidemic. Menular. Ia menyebar bagai virus.
RUU KKG tengah marak dibincangkan. Salah satu golongan yang gigih menuntut pengesahan RUU ini adalah komunitas LGBT. Siapakah mereka? Inilah kaum yang terdiri dari para Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender. Bagaimanakah mereka ini? Benarkah mereka terlahir demikian? Mari kita telusuri bersama.Transgender adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan orang yang berprilaku, berfikir, dan terlihat berbeda dengan jenis kelamin yang ditetapkan saat lahir. Mereka inilah yang biasa disebut waria. Pria yang berprilaku seperti wanita, dan memiliki ketertarikan seksual kepada, tentu saja, siapa lagi kalau bukan pria.
Sahabat, pernah dengar istilah hermaprodit, kan? Yups, ini adalah istilah untuk makhluk yang memiliki alat kelamin ganda. Ditemukan tidak hanya pada hewan, namun pada manusia juga. Konon, dari setiap 2000 bayi yang lahir, satu diantaranya adalah hermaprodit. Yang lazim terjadi, penyebab hermaprodit adalah disebabkan oleh ketidaknormalan susunan kromosom atau ketidakseimbangan hormon. Orang yang hermaprodit bisa memiliki dua organ seksual pria dan wanita secara bersamaan. Namun biasanya, salah satu lebih mendominasi. Maka, genital surgery dilegalkan untuk kasus seperti ini.
Melihat
keterangan tadi, jelas sekali bahwa transgender berbeda dengan hermaprodit.
Karena faktor perubahan identitas jenis kelamin kaum transgender biasanya lebih
disebabkan oleh dorongan jiwa (hawa nafsu).
Sementara
itu, status biseksual biasanya ditujukan untuk orang normal (bukan hermaprodit)
yang memiliki ketertarikan seksual baik terhadap pria maupun wanita. Pendeknya,
heteroseksual iya, homoseksual juga. Jelas sekali disini, faktor psikologi yang
menjadi pemicu.
Lalu
bagaimanakah dengan kaum homoseksual?
“Jangan
salahkan kami kalau kami ini gay. Ini keturunan. Genetik!”.
Ah,
ya. Kalimat seperti ini tentu seringkali terlontar dari mulut mereka. Tapi
benarkah faktor genetik yang menjadikan seseorang berstatus gay?
Sebuah
riset pernah dilakukan berkenaan dengan hal ini oleh Simon Lavey. Partisipan
adalah para homoseksual dan heteroseksual (normal) pengidap AIDS. Ditemukan
bahwa ada perbedaan ukuran otak di hyphothalamus, tepatnya di bagian tengah
daerah preoptik. Otak kaum homoseksual ini, ukurannya 2-3 kali lebih kecil dari
pada ukuran otak lelaki normal. Maka disimpulkan bahwa homoseksual itu terjadi
karena memang ada penyebab alaminya. Ih, bahagia deh mereka.
Weitts,
sebentar. Memang benar ada perbedaan size otak antara heteroseksual dan
homoseksual. Namun ada penjelasannya. Apa yang terjadi dalam otak manusia
tersebut sebenarnya adalah Brain plasticity atau Neuroplasticity.
Yaitu dimana fungsi/fisik otak akan mengalami perubahan akibat adaptasi
lingkungan. Jadi, karena mereka berprilaku gay, maka organ otak dan fungsinya
pun ikut berubah. Contoh simpelnya seperti para binaragawan. Apakah ketika lahir
dulu mereka sudah berotot gitu? Tidak, kan?! Dan ingat, gay couple itu tidak
bisa memiliki keturunan biologis. Maka teramat sangat tidak mungkin sekali
(panjang bener taukid-nya) ‘penyakit’ mereka menurun ke generasi selanjutnya.
Selain itu, ditemukan pula bahwa penyebab mengecilnya ukuran otak kaum
homoseksual tadi sebenarnya adalah akibat keganasan penyakit AIDS itu sendiri.
Mengenai
dalil genetik ini, sebuah argumen menarik disampaikan oleh Prof. Malik Badri,
seorang psikolog muslim besar abad ini. Dalam bukunya The Aids Crisis beliau
mengatakan bahwa sekiranya homoseksual benar disebabkan oleh faktor genetik,
maka tentu seluruh umat manusia memiliki kecenderungan berprilaku demikian
tanpa terkecuali.
Beliau
pun menambahkan. Saat mereka menyebutkan faktor keturunan (gen) sebagai alasan,
maka itu sama saja artinya mereka menuduh Tuhan sebagai penyebab. "Kami
diciptakan begini. Cek saja DNA ini". Menyalahkan Tuhan atas prilaku
amoral pribadi? MasyaAllah.
Maka
jelas sudah, faktor lingkungan memiliki andil besar disini. Diantaranya adalah
pendidikan yang salah pada masa kecil, seperti membiarkan anak laki-laki
berkembang dalam tingkah laku perempuan, atau sebaliknya. Disamping faktor
ekonomi (kemiskinan) dan sosial (pergaulan), trauma akibat kekerasan fisik,
verbal, mental bahkan seksual juga dapat menjadi pemicu prilaku amoral ini.
LGBT
itu epidemic. Menular. Ia menyebar bagai virus. Lantas berapakah kiranya besar
populasi mereka saat ini? Tidak ada yang tahu berapa jumlah pastinya. Namun,
survey di Amerika tahun 2000 menyebutkan bahwa bilangan LGBT terus meningkat
setiap tahunnya. Dan menurut kesimpulan sementara, besar ratio adalah 1:5.
Artinya, dalam setiap 5 orang, 1 diantaranya berstatus LGBT. Di Inggris, sensus
sekitar tahun 2005 mengatakan bahwa jumlah populasi homoseksual adalah sebesar
6%, atau setara 3.6 juta dari total penduduknya. Sementara di Indonesia,
menurut data IGAMA, sebuah komunitas gay di indonesia, jumlah populasi
LGBT saat ini adalah sekitar 800.000 orang dan tersebar di berbagai wilayah.
Tidak menutup kemungkinan, kaum ini juga exist di negara-negara muslim
lainnya. Hanya saja tidak tertangkap oleh radar.
Bagaimana
ini bisa terjadi?
Media
massa memainkan perannya! Propaganda LGBT salah satunya adalah lewat
entertainmanet. Dalam serial GLEE yang kini tengah populer, siapa sih yang
tidak kenal dengan karakter Kurt Hammel (Chris Colfer)?! Mirisnya, ia kini
menjadi idola kaum muda. Queer Eye For The Straight Guy, justru mengusung
pesan yang lebih tajam. Dalam film ini, laki-laki gay dicitrakan lebih
‘superior’ dalam beberapa hal dibanding pria normal. Pesan tersiratnya, cowok
normal itu ternyata ngga becus. Sopan sekali!
Netralisasi
konsep homoseksual pun semakin gencar.
"Gay
itu bukan penyakit. Hanya variasi seks”. Wahh, kalau dianalogikan, ini
sama saja seperti kita mau makan, pilih lauk ikan, ayam atau tempe, apapun sah
saja. Tidak ada yang salah. Homoseksual, yang awalnya dianggap sebagai
penyimpangan seksual (sexual deviant) kini menjadi lebih positif, hanya variasi
seksual (sexual variant).
Bahkan
sekarang muncul pula istilah homophobia, sebutan bagi orang-orang yang masih
bersikukuh menentang homoseksual. Kalau kita cermati lebih dalam, penggunaan
kata ini justru menunjukkan bahwa kita-lah yang abnormal.
Apa akibat dari propaganda media ini? Fatal sekali! Secara tidak sadar, masyarakat perlahan akan menerima bahwa LGBT itu bukan lagi suatu aib, dosa. Kerusakan moral tentu akan terjadi dimana-mana. Perkawinan sesama jenis, kerancuan nasab keturunan, hingga penyebaran penyakit seperti AIDS akan semakin tidak terbendung. DAn satu hal yang pasti, ras manusia diambang kemusnahan.
So,
beware of LGBT!
Wallahu a'lam
(*note: telah di posting juga di http://kliktarbiyah.blogspot.com
Reference:
Badri,
M. (2000). The aids crisis: a natural product of modernity’s sexual
revolution, kuala lumpur: Madeena books
Juwilda.
(2010). Transgender: manusia keragaman dan kesetaraannya.
Larsen,
R. J. (2002). Personality psychology: domain of knowledge about human
nature, New York: McGraw-hill.
Robison,
J (2000). What percentage of the population is gay? Retrieved
from http://www.gallup.com
Kusno,
G (2011). Isu ‘ gay’: topic tabu di indonesia. Retrieved from http://kesehatan.kompasiana.com/seksologi
Ziz.
(2011). Dibanding hetero, jumlah kasus hiv aids pada gay tergolong
kecil. Retrieved from http://www.igama.or.id



0 comments:
Post a Comment