Tuesday, March 12, 2013

Myanmar & Thaif



Saat ini, dunia menyaksikan bagaimana muslim Rohingya menjadi orang-orang yang terusir dari negaranya. Mereka disakiti hanya karena mereka bersikeras memeluk keyakinan Tauhid, yang berbeda dengan agama mayoritas penduduk di negeri itu. Di sakiti, di ancam, di bunuh, di usir, hingga tidak diakui sebagai warga Negara, sungguh…getir sekali hidup mereka. Hak Asasi mereka di injak-injak.

Entah, berapa banyak dari mereka yang syahid di jalan ini. Simpati tersorot kepada mereka. Bantuan mengalir dari mana-mana. Kecaman terhadap penguasa negeri pun dilayangkan. Namun seolah mereka ini tuli, dan sungguh tak peduli. Yang terjadi malah, semua bentuk bantuan kemanusiaan itu di haling-halangi agar tidak sampai kepada muslim rohingya. Ya Rabby!  
Geram, tentu saja.
Marah, seolah tak terbendung. Tumpah bersama air mata yang mengalir deras.
Masih layakkah orang-orang dzalim itu di sebut manusia?

Lantas sekarang apa yang harus kita lakukan?
Tetap membantu, tentu saja. Dan terus Doa untuk saudara seiman kita di sana.
Dan untuk orang-orang dzalim itu, apakah yang harus kita lakukan untuk mereka?

Sahabat, aku teringat tentang sebuah kisah yang melahirkan doa yang sangat indah. Mungkin kita bisa belajar dari sana.

Lelaki Mulia ini, telah berjalan menempuh ribuan mil jauhnya, debu-debu perjalanan menempel pada pakaiannya. Lapar dan dahaga sudah sejak tadi menemaninya. Namun wajah itu tetap tak kehilangan senyum menawannya, meski baru saja Ia kehilangan orang-orang yang di cinta. Membawa berjuta harapan di dada, dengan tegap Ia melangkahkan kaki memberanikan diri menemui orang-orang di kota itu. Sungguh santun lelaki ini ketika berbicara, namun mereka, orang-orang di kota itu justru membalasnya dengan hinaan, cacian, dan kata-kata yang menyakitkan. Bahkan terang-terangan, mereka mengusir lelaki ini agar keluar dari kota mereka. “Cepat-cepatlah keluar dari kampong kami. Pergilah ke tempat mana saja yang engkau sukai asalkan jangan di sini”. Tak berhenti di situ, Ia pun dilempari dengan batu. Maka Ia pun bersembunyi di sebuah kebun demi menyelamatkan diri. Ia kelelahan. Kedua kakinya basah dengan darah yang mengucur dari luka akibat lemparan batu. Dari wajahnya terpancar kesedihan yang mendalam. Dengan mata berkaca-kaca Ia berdoa, mengadukan segala kelemahannya. Doa yang sangat menyayat hati, hingga membuat Jibril datang menemuinya segera. Ya! Dialah Rasulullah junjungan kita.

Sang Malaikat menyampaikan bahwa, Allah melihat apa yang telah terjadi. Dan telah pula menyiapkan balasan yang setimpal untuk penduduk negri itu, atas perlakuan mereka kepada kekasih-Nya. Para Malaikat telah pun bersiaga di gunung-gunung yang mengelilingi kota, siap menerima perintah penghancuran. Tinggal menunggu aba-aba dari sang Rasul. Namun, apa yang kemudian Baginda katakan? 

Jangan… jangan! Bahkan aku berharap Allah akan mengeluarkan dari tulang sulbi mereka keturunan yang akan menyembah Allah semata. Jika mereka tidak menjadi muslim, semoga pada suatu saat nanti anak-anak mereka akan menjadi orang-orang yang menyembah dan beribadah kepada-Nya”
Dan benarlah, dalam shirah nabawiyyah kita kemudian menyaksikan bagaimana penduduk Thaif di kemudian hari, anak cucu dari keturunan sebelumnya, menjadi prajurit Islam yang gagah berani. Pembela Ar Risalah. Subhanallah, indah sekali akhlak beliau. 

Maka, itu mungkin yang bisa kita teladani sekarang. Terhadap para penduduk Negara yang telah mendzolimi saudara seiman kita, muslim rohingya. Tak salah memang jika doa-doa keburukan kita persembahkan kepada para Dzolimun itu. Namun, sungguh lebih indah jika kita juga mendoakan kebaikan untuk mereka. Seperti apa yang telah dicontohkan oleh Manusia yang paling mulia.   
“Ya Allah… semoga kelak penduduk negeri itu akan memeluk Islam”

Maka, kukatakan ini dengan yakin; “Biiznillah…keadaan akan berbalik. Dan Panji Islam akan kembali berkibar di Bumi Myanmar. Allahuakbar!” 

0 comments:

Post a Comment

 
;