Saat ini, dunia menyaksikan
bagaimana muslim Rohingya menjadi orang-orang yang terusir dari negaranya.
Mereka disakiti hanya karena mereka bersikeras memeluk keyakinan Tauhid, yang
berbeda dengan agama mayoritas penduduk di negeri itu. Di sakiti, di ancam, di
bunuh, di usir, hingga tidak diakui sebagai warga Negara, sungguh…getir sekali
hidup mereka. Hak Asasi mereka di injak-injak.
Entah, berapa banyak dari mereka
yang syahid di jalan ini. Simpati tersorot kepada mereka. Bantuan mengalir dari
mana-mana. Kecaman terhadap penguasa negeri pun dilayangkan. Namun seolah
mereka ini tuli, dan sungguh tak peduli. Yang terjadi malah, semua bentuk
bantuan kemanusiaan itu di haling-halangi agar tidak sampai kepada muslim
rohingya. Ya Rabby!
Geram, tentu saja.
Marah, seolah tak terbendung. Tumpah
bersama air mata yang mengalir deras.
Masih layakkah orang-orang dzalim
itu di sebut manusia?
Lantas sekarang apa yang harus kita
lakukan?
Tetap membantu, tentu saja. Dan terus
Doa untuk saudara seiman kita di sana.
Dan untuk orang-orang dzalim itu,
apakah yang harus kita lakukan untuk mereka?
Sahabat, aku teringat tentang sebuah
kisah yang melahirkan doa yang sangat indah. Mungkin kita bisa belajar dari
sana.
Lelaki Mulia ini, telah berjalan
menempuh ribuan mil jauhnya, debu-debu perjalanan menempel pada pakaiannya.
Lapar dan dahaga sudah sejak tadi menemaninya. Namun wajah itu tetap tak
kehilangan senyum menawannya, meski baru saja Ia kehilangan orang-orang yang di
cinta. Membawa berjuta harapan di dada, dengan tegap Ia melangkahkan kaki
memberanikan diri menemui orang-orang di kota itu. Sungguh santun lelaki ini ketika
berbicara, namun mereka, orang-orang di kota itu justru membalasnya dengan
hinaan, cacian, dan kata-kata yang menyakitkan. Bahkan terang-terangan, mereka
mengusir lelaki ini agar keluar dari kota mereka. “Cepat-cepatlah keluar dari kampong
kami. Pergilah ke tempat mana saja yang engkau sukai asalkan jangan di sini”. Tak
berhenti di situ, Ia pun dilempari dengan batu. Maka Ia pun bersembunyi di
sebuah kebun demi menyelamatkan diri. Ia kelelahan. Kedua kakinya basah dengan darah yang mengucur dari luka
akibat lemparan batu. Dari wajahnya terpancar kesedihan yang mendalam. Dengan mata berkaca-kaca Ia berdoa, mengadukan segala
kelemahannya. Doa yang sangat menyayat hati, hingga membuat Jibril datang
menemuinya segera. Ya! Dialah Rasulullah junjungan kita.
Sang Malaikat menyampaikan bahwa, Allah melihat apa yang telah terjadi. Dan telah pula menyiapkan balasan yang setimpal untuk penduduk negri itu, atas perlakuan mereka kepada kekasih-Nya. Para Malaikat telah pun bersiaga di gunung-gunung yang mengelilingi kota, siap menerima perintah penghancuran. Tinggal menunggu aba-aba dari sang Rasul. Namun, apa yang kemudian Baginda katakan?
Sang Malaikat menyampaikan bahwa, Allah melihat apa yang telah terjadi. Dan telah pula menyiapkan balasan yang setimpal untuk penduduk negri itu, atas perlakuan mereka kepada kekasih-Nya. Para Malaikat telah pun bersiaga di gunung-gunung yang mengelilingi kota, siap menerima perintah penghancuran. Tinggal menunggu aba-aba dari sang Rasul. Namun, apa yang kemudian Baginda katakan?
“Jangan… jangan! Bahkan aku berharap
Allah akan mengeluarkan dari tulang sulbi mereka keturunan yang akan menyembah
Allah semata. Jika mereka tidak menjadi muslim, semoga pada suatu saat nanti
anak-anak mereka akan menjadi orang-orang yang menyembah dan beribadah
kepada-Nya”.
Dan benarlah, dalam shirah nabawiyyah kita kemudian menyaksikan bagaimana penduduk Thaif di kemudian hari, anak cucu dari keturunan sebelumnya, menjadi prajurit Islam yang gagah berani. Pembela Ar Risalah. Subhanallah, indah sekali akhlak beliau.
Dan benarlah, dalam shirah nabawiyyah kita kemudian menyaksikan bagaimana penduduk Thaif di kemudian hari, anak cucu dari keturunan sebelumnya, menjadi prajurit Islam yang gagah berani. Pembela Ar Risalah. Subhanallah, indah sekali akhlak beliau.
Maka, itu mungkin yang bisa kita teladani sekarang. Terhadap para
penduduk Negara yang telah mendzolimi saudara seiman kita, muslim rohingya. Tak
salah memang jika doa-doa keburukan kita persembahkan kepada para Dzolimun itu.
Namun, sungguh lebih indah jika kita juga mendoakan kebaikan untuk mereka. Seperti
apa yang telah dicontohkan oleh Manusia yang paling mulia.
“Ya Allah… semoga kelak penduduk
negeri itu akan memeluk Islam”
Maka, kukatakan ini dengan yakin; “Biiznillah…keadaan
akan berbalik. Dan Panji Islam akan kembali berkibar di Bumi Myanmar.
Allahuakbar!”



0 comments:
Post a Comment