Konon, burung-burung tahu ketika terjadi gerhana matahari. Mereka akan kembali ke sarangnya untuk berlindung. Insting mereka mengatakan bahwa sesuatu sedang terjadi. Karena Gelap yang menyelimuti adalah gelap yang tidak biasa, bukan gelap menjelang turunnya malam. Sebab waktu terbenam matahari masih jauh.
Secercah sinar yang tersemburat dari gerhana matahari, menyisakan harapan bagi mereka, bahwa hari akan kembali terang. Karena itu mereka terus menunggu, dan enggan terlelap.
Begitulah perumpamaan bagi para muslim yang hidup hatinya. Mereka yakin bahwa Islam akan bangkit kembali. Maka mereka menunggu.
Mereka sadar, bahwa meskipun Bahtera Islam sekarang sedang dihantam badai topan, diombang ambing ombak, diserang dari berbagai penjuru oleh Musuh Allah, bahtera Islam, tidak akan tenggelam. Sedikit demi sedikit, Islam akan bangkit lagi, bersama gerhana yang mulai pulih.
Badai pasti berlalu, begitu yang mereka yakini. Dan bahwa pertolongan Allah akan datang bersama usaha dan Doa.
Shalahuddin Al Ayyubi, Muhammad Fatih, Hasan Al banna, dan sederet nama lain telah terukir di pentas perjuangan. Biiznillah, tunas-tunas yang disemai akan tumbuh, menyambut kembali seruan agung.
Allahuakbar!!!
“Sujud kemerdekaan”
Abdul wahab Azam
Sujud itu menundukkan dahi, tetapi
Memuliakan muslim yang bertakbir kepada Allah dan bertasbih padaNya
Si jahil menyangkanya belenggu ke atas hamba
tetapi sujudlah yang memusnahkan segala belenggu
Di dalam kemuliaan sujud, semua akan tunduk kepada muslim yang sujud
Seluruh alam takut kepada kata-kata dan perbuatannya
Wajah dan seluruh anggotanya diletakkan di bumi
Tetapi dia menggoncangkan gunung-ganang
Meruntuhkan syirik, was-was di dalam diri si jahil
tetapi membangunkan segala generasi dalam ketenangan
kerana hati ada perjalanan yang menundukkan bumi
lantaran kehebatan dan kebesaranNya
Sujud kepada Allah dan mengesakanNya, lalu mantap dan kuat
Terhapuslah setiap penzalim yang sombong
Barangsiapa menghayati sujud ini,
dia menikmati kepimpinan dan ketuanan
di muka bumi, dengan keagungannya, rahmat dan keindahannya
*disadur kembali dari Hanya Gerhana, Bukan Terbenamnya Matahari dalam kitab Al Munthalaq, Muhammad Ahmad Al Rasyid


0 comments:
Post a Comment