Jujur kukatakan, novel yang ditulis oleh A. Fuadi ini, membuatku jadi bernostalgia dengan kenangan lama kehidupan di pondok beberapa tahun silam.
Buku ini menceritakan tentang lika-liku kehidupan santri di sebuah pondok modern yang terletak di sebuah desa kecil, di jawa timur.
Bagi santri pondok modern, siapa sih yang ga kenal dengan profil pondok Gontor??? maka saranku, kalau ingin mengetahui bagaimana sistem pendidikan di Pondok pesantren yang pendirinya dikenal dengan sebutan Trimurti ini, insyaAllah sedikit banyak novel ini bisa memberikan gambaran
Bab-bab dalam novel ini seperti menyingkap kembali memori lama ketika menuntut ilmu di penjara suci, begitu kami biasa menyebutnya. Kukira para alumni Pondok Modern juga akan beranggapan sama. Maa haaza, seingatku, adalah kalimat pertama bahasa arab yang kupelajari disana. Dan tokoh yang berperan besar menanamkan pelajaran ini dalam memoriku adalah ustadz Umar, seorang ustadz yang bersahaja. Beliaulah wali kelas pertama kami yang begitu sabar membimbing kami yang suka bikin ulah.
Kalau sang tokoh utama punya sahibul menara, maka dalam kisah kami namanya sahibul ashadan. Dan untuk bab Festival akbar, aku sangat setuju bahwa kata ini tepat sekali untuk menggambarkan perayaan ujian kami yang benar-benar sebuah pesta perjuangan berat di medan perang. All out istilahnya.
Ujian lisan dan tulis yang memakan waktu 2 minggu ini, benar-benar melelahkan lahir dan batin, mental dan fisik, menguras tenaga, emosi, pikiran dan uang. Maklum, jam belajar jadi naik drastis. Dan ini membuat kami jadi cepat merasa lapar hingga sering bolak-balik ke koperasi. Heheh…
Euforia belajar mendadak menyerbu hingga ke sudut pondok. Kemana-mana, santri asyik komat-kamit sambil pegang buku. Antri di kamar mandi, sambil makan, bahkan sambil jalan. Takjub, baru ditempat ini aku melihat belajar massal seperti ini. Kemanapun mata memandang, semua sama. Asyik dengan buku. Indahnya!
Hari yang paling dinanti-nanti adalah hari jum’at, karena inilah hari libur mingguan di pondok. Waktunya istirahat dari seabreg kegiatan selama 6 hari penuh. Kalo mau izin keluar, silahkan, asal bisa dapet tanda tangan dari ustadzah yang rela menginterogasi hingga menciutkan nyali. Hari jum’at juga artinya yaumul tandziful am, hari bersih-bersih massal. Seluruh santri akan bergotong royong membersihkan pondok. Mulai dari kamar-kamar, kelas, halaman, kamar mandi, semuanya deh. Pokoknya Bersih-bersih…
Tradisi hari jum’at lainnya adalah nyuci baju massal. Rame-rame duduk berderet dipancuran nyuci baju kotor yg sudah numpuk selama hampir seminggu sambil ngobrol. Inilah hari libur belajar, dan waktunya bekerja. Fiuuhh..
Di pondok, kami diajari tentang arti kebersamaan dan berbagi. Privasi hanya ada dalam lemari, karena satu kamar diisi sekitar 30 orang. Terbayang gimana ramenya kan ?!
Biasanya, ketika seseorang misalnya dapet kiriman or paket makanan dari orang tua/ saudara yg datang berkunjung, itu artinya kebahagiaan bagi penghuni kamar tersebut. Sosialisasi banget dah ah!
Kebahagiaan lainnya adalah sewaktu pagelaran seni tahunan, masa penerimaan santri baru, pekan khutbatul arsy. Disini, mulai dari santri junior sampe senior semua naik pentas, menampilkan berbagai macam kesenian sebagai ucapan selamat datang kepada para santri baru. Ada yang menari, main drama, puisi kolosal, komedi, pidato 3 bahasa, nasyid, main musik, bahkan pantomim. Subhanallah, meriah deh pokoknya!
Inilah yang kusuka, karena di pondok ini, ternyata santri bebas menyalurkan ekspresi seninya. Selain panggung gembira, tiap tahun biasanya juga ada pekan musabaqah tilawatil Qur’an. Mulai dari tilawah, fahmil Qur’an, sampai lomba menulis khot indah ada. Dengan begini, kesenian islam akan tetap hidup, begitu kata ust. Izzat Sholihin, sang Direktrur KMI.
Uthlah fil ma’had biasanya hanya ketika liburan semester dan liburan idul fitri. Karena lebaran idul fitri sudah pulang, maka ketika lebaran idul adha kami akan merayakannya di pondok. Tidak ada yg boleh pulang. Biasanya, sehari sebelumnya, kami semua di perintahkan untuk puasa arafah, hukumnya sunah muakkad, yg bisa puasa tapi ga puasa, siap-siaplah berhadapan dengan wajah horor ustadzah atau kismul amni. Ini dalam rangka pembiasaan ibadah sunah.
Menu untuk buka puasanya bisa lebih istimewa, es buah or kolak pisang. Kadang ditambah buah. Malamnya, akan diadakan lomba takbiran antar kelas. Keesokan paginya, kami semua sholat hari raya dipimpin langsung oleh pak kyia. Habis itu, baru acara penyembelihan hewan kurban oleh para asatidz. Nah, daging-daging yang sudah di potong ini nantinya akan dibagikan ke seluruh santri, per kelas biasanya, untuk nanti malam di bakar rame-rame dilapangan pondok.
Ini puncak acara yang paling dinanti-nantikan.
Setelah dapat daging, tiap kelas akan menempati kaplingannya masing-masing dilapangan, membuat tungku pembakaran, meracik bumbu, dan memotong daging. Ba’da isya’ baru serentak semua santri mulai membakar sate. Hingga dalam sekejap, langit pondok sudah dipenuhi dengan asap dan aroma sate bakar. Sedapnyaaa!
Satu jam kemudian, para VIP (pak kyia, dan semua asatidz) akan berdatangan, menjenguk dan mencicipi satu persatu daging olahan karya kami. Kadang sambil berbincang-bincang (jadi kaya’ gala dinner gitu). Soalnya ini kesempatan langka, jarang-jarang kami bisa berbincang-bincang santai dengan pak kyia dan para asatidz suyukh. Kalo sudah selesai, biasanya kami mulai ronda keliling lapangan. Ikut mencicipi sate buatan kelas lain. Pulang ke kaplingan bisa-bisa dapet satu piring penuh. Ahaha…
Di pondok, bahasa yang digunakan selain Arab dan Inggris adalah haram. Berani berbicara bahasa Indonesia apalagi daerah, maka artinya menyiapkan diri untuk masuk ke kandang singa. Disiplin sangat dijunjung. Peraturan harus ditegakkan. Untuk Santri baru, pelanggaran bahasa hanya akan diterapkan setelah 3 bulan terhitung dari awal kami masuk. Tapi peraturan yg lain, sama dijunjung. Terlambat datang ke masjid sholat berjamaah, nyerobot antrian makan atau mandi, hingga pake sandal temen tanpa izin, maka siap-siaplah berhadapan dengan wajah angker para kakak kismul amni, bagian keamanan, sang penegak peraturan di Pondok. Merekalah sang pencatat kitab dosa para santri.
Minggu-minggu pertama jadi penghuni pondok, bagi mayoritas santri baru, biasanya mereka stress berat. Bayangkan, aktifitas kami sudah bermula diawal pagi, sebelum jam 5 dan berakhir jam 10 malam. Ritme kehidupan kami diatur oleh jaras (bel). Bahkan kalo mau tidur malam, harus nunggu jaras dulu. Berani masuk kamar dan tarik bantal sebelum jaras bergema, lagi-lagi kismul Amni tidak segan-segan menggebuk dengan sajadah.
Minggu-minggu pertama jadi penghuni pondok, bagi mayoritas santri baru, biasanya mereka stress berat. Bayangkan, aktifitas kami sudah bermula diawal pagi, sebelum jam 5 dan berakhir jam 10 malam. Ritme kehidupan kami diatur oleh jaras (bel). Bahkan kalo mau tidur malam, harus nunggu jaras dulu. Berani masuk kamar dan tarik bantal sebelum jaras bergema, lagi-lagi kismul Amni tidak segan-segan menggebuk dengan sajadah.
Disiplin dan mandiri, itulah yang diajarkan di pondok. Siap dipimpin dan siap memimpin adalah motto lainnya. Kalo SMU punya OSIS, kami punya OPPM, Organisasi Pelajar Pondok Modern. Merekalah dewan eksekutif pondok, wakil para asatidz, mengatur dan mengawasi kedisiplinan di pondok. Kismul Amni (bag. Kemanan), Kismul Lughah (bag. Bahasa), kismu ta’lim wal ibadah (bag. Pengajaran & ibadah), kismul funun (bag. Kesenian), kismu Shihah (bag.medis), kismu I’lam (bag.informatika), kismu riyadhah (bag. Olahraga), dll.
Di pondok kecil ini, aku mendapatkan ilmu yang banyak sekali. Disini aku baru paham, bahwa ilmu dunia dan agama itu bukan sesuatu yang terpisah. Justru, keduanya saling terhubung. tempat ini membuka mataku, bahwa pesantren itu tidak melulu mengaji kitab kuning dan menghafal ayat juga hadits, tapi juga tempat latihan berorganisasi dan wadah untuk mengembangkan apresiasi seni.
Hymne oh pondokku.
Oh Pondokku tempat naung kita
Dari kecil sehingga dewasa
Rasa batin damai dan sentosa
Dilindungi Allah ta'ala
Oh Pondokku engkau berjasa
Pada ibuku Indonesia
Tiap pagi dan petang
Kita beramai sembahyang
Mengabdi pada Allah ta'ala
Di dalam kalbu kita
Wahai Pondok tempatku
Laksana ibu kandungku
Nan kasih serta sayang padaku
Oh pondokku ......................
I ....... bu ...............ku.
Dari kecil sehingga dewasa
Rasa batin damai dan sentosa
Dilindungi Allah ta'ala
Oh Pondokku engkau berjasa
Pada ibuku Indonesia
Tiap pagi dan petang
Kita beramai sembahyang
Mengabdi pada Allah ta'ala
Di dalam kalbu kita
Wahai Pondok tempatku
Laksana ibu kandungku
Nan kasih serta sayang padaku
Oh pondokku ......................
I ....... bu ...............ku.



0 comments:
Post a Comment