Aku sedang asyik mengurusi tanaman-tanamanku di halaman rumah kami sore itu ditemani bungsuku ketika dia bertanya ini, “bunda, mati itu apa?”.
Dahiku berkernyit menatap gadis kecilku yang baru berumur 5 tahun. Dimataku saat ini, dan kupikir kapanpun juga aku menatapnya, ia selalu cantik, dan cerdas. Ia baru saja masuk sekolah beberapa bulan yang lalu. Dan tadi siang, ketika aku menjemputnya pulang sekolah, dia memberitahuku bahwa seorang teman sekelasnya tidak masuk hari ini karena, kata ibu guru, ayahnya baru saja meninggal tadi malam.
Aku diam. Bukan. Bukan karena tidak bisa menjawab, tapi sedang memikirkan jawaban yang pas agar dia bisa memahami dengan mudah. Tidak mungkin kan aku bilang, mati itu artinya ruh telah di cabut dari badan kita. Ujung-ujungnya nanti malah ribet, menjalar kemana-mana. Nyawa itu apa bunda? Dimana letaknya dalam badan kita? Kenapa harus di cabut? Dan aku yakin dengan semua itu akan semakin membingungkan dia memahami pertanyaannya yang awalnya begitu simpel.
“Bunda, jawab dong.” si kecil mengoyang-goyang lenganku. Mungkin dia merasa dicuekin karena aku masih saja sibuk menyiram tanaman mawarku. Aku tersenyum
“Adek, coba sini deh” kataku sambil berdiri memandang pohon jambu didepanku. Dia mendekat.
“Kenapa bun? Sudah berbuah ya jambunya?” dia ikut mendongakkan kepala. Matanya sibuk mencari-cari.
Aku meraih dahan jambu didekatku yang agak rendah. “Adek lihat ini?” aku menunjuk pucuk daun jambu yang masih begitu muda dan kecil. Dia mengangguk. “Lucu ya bun. Imut”, celetuknya. Aku tersenyum.
“Iya. Kayak adek.”
Aku menunjuk daun muda dibawah pucuk daun tadi. “Daun jambu ini kecil ini nantinya semakin hari tumbuh semakin besar. Daunnya jadi lebih lebar, warnanya juga jadi hijau tua. Lihat kan ?!” bungsuku mengangguk.
“Aama kayak adek juga. Adek dulu juga pernah jadi bayi kecil seperti adek tiara”, aku menyebut nama anak bayi tetangga sebelah rumah. “Semakin lama adek makin besar. Sekarang akhirnya sudah masuk sekolah. Terus nanti adek juga akan jadi besar seperti mbak Arin, mas Age. Semakin besar jadi kayak bunda dan ayah. Dan akhirnya nanti adek juga akan jadi seperti eyang….”
“Jadi tua ya bun?”, potongnya. Aku mengangguk.
“Setelah itu jadi apa?” Sambungnya cepat. Aku menghela nafas. Sampai juga di Fase akhir.
“Setelah itu… mati sayang.” Dia diam.
“Sama seperti daun jambu ini sayang. Ini yang dipucuknya, masih muda, mentah, kecil. Setelah itu dia tumbuh besar. Akhirnya, lama-lama daunnya ngga hijau lagi. Nih, malah jadi coklat. Kering, sudah ngga segar lagi seperti waktu masih hijau. Nah, daun yang coklat dan lemah ini, kalo manusia itu seperti eyang. Dia tua. Karena sudah lemah dan tua, ketika ada angin, atau adek goyang dahannya saja, dia jatuh ke tanah. Terlepas dari dahannya.”
“Dia mati ya bunda?”. Aku mengangguk.
“Di tanah, coba adek lihat” aku menudukkan kepala. Dia mengikuti. “daun-daun yang kering hancur perlahan-lahan hingga akhirnya dia menjadi tanah.”
“Tapi bunda, ayah lia belum tua kok. bukan kakek-kakek” dahinya berkernyit.
“Hemm… mati itu ngga selalu terjadi setelah kita jadi tua aja sayang. Nih, waktu bunda petik pucuk daun, dia mati ngga?” tanyaku sambil membuang pucuk daun jambu ke tanah.
“Atau bunda petik yang ini juga” ku petik daun jambu yang lebih lebar.
“Kalau daun jambu sudah lepas dari pohonnya, dia akan mati sayang. Ngga akan bisa hidup, tumbuh atau jadi segar lagi. Coba adek lihat, daun yang di tanah ini, apa bisa jadi pucuk daun lagi yang kecil?” gadis kecilku menggeleng.
“Begitu juga kita. Setelah kita mati, kita ngga akan bisa bangun lagi. Apalagi makan, minum, belajar, apalagi sholat. Makanya sebelum mati, ayo rajin-rajin sholat.” Aku mengacak-acak rambut bungsuku. Dia nyengir.
“Ooo… jadi begitu ya. makasih bunda. Besok adek juga mau ceritain deh ke teman-teman.”
Aku mengangguk tersenyum. Benar kan , bahwa hidup kita ini seperti si daun jambu?!
*A million loves to my little sweetheart



0 comments:
Post a Comment