Hummm, guys, what will come to your mind first when hear this word???
Gila. Gitu???
Jadi inget potongan dialog dengan kawan beberapa tahun lalu. Classmate Intro to psychology. Karena dia sering banget absent, aku tanya deh kenapa. Jawabannya…
“Males masuk kelas. Kelas itu tu cuma untuk orang gila!”.
Jderrr!!! Langit mendadak gelap! Dan perut tiba-tiba jadi keroncongan (halah).
Betapa shock-nya aku pas denger, coz waktu itu lagi demen-demennya belajar psychology. What on earth he thinks he could say that???
Dan begitulah nyatanya. Bagi kebanyakan orang, psychology itu ya pokoknya berhubungan dengan atau ngurusin orang gila. Titik!
Jadi… apa orang yang belajar psychology itu karena dia gila???
Anyway… let me tell you something what psychology is. Supaya anda ga di bilang kuper gitu ntar. (deilee, sok banget yak?!). ngga kok sodari, tidak bermaksud demikian.
Secara definisi, psychology is a scientific study of behaviour and mental processes. Cieeh, keren ya kedengarannya. But that’s the truth.
Kenapa dibilang scientific???
Pertama, karena based on empirical research. Jadi, psychologist itu di tuntut untuk conduct research dulu kalo mau building or proofing the theory. Ga bisa main ngomong gini gitu aja. Intinya ya kudu ada/ pake dalil gitu. Misalnya, Bener ngga sih orang yang lagi jatuh cinta itu disoriented gitu?? Semenit serasa setahun. Ini akan dibahas under topic of time perception.
Thus, psychology is not a common sense after all.
Hal lain yang sangat kental dikaitkan dengan psikolog adalah kepercayaan bahwa mereka bisa membaca pikiran orang.
Ya ampun!
Guys, psikolog itu bukan dukun atau paranormal. Catet!
Mereka itu hanya manusia biasa. Jadi kalo kalian datang ke psikolog dan meminta membaca pikiran kalian, plis deh… sorry, wrong number! (maaf! salah sambung)
Apa yang dilakukan oleh psikolog itu hanya mengikuti rumus 4W+1H, sama seperti wartawan kalo lagi nulis berita. Psikolog mencoba mencari tahu misalnya kenapa seseorang itu berkelakuan aneh, contoh: suka mendadak ngeguntingin apa aja yang ada dihadapannya (why), mendeskripsikannya (what), trus memprediksikan kapan kelakuannya kambuh lagi (when), dan mencoba membantu mengatasinya (how).
Memang sih secara lingusitik saja psyche itu artinya jiwa atau pikiran.
Tau ngga sodari, berdasarkan research finding, tiap 5 orang di dunia ini, satu diantaranya pasti di diagnosa menderita sakit jiwa. Nah lho?!
Level sakit jiwa itu sendiri juga macem-macem. Ada yang kelas VIP, ada yang ekonomi (halah).
So pasti yang paling akut itu yang lagi dirawat inap di RSJ. Depresi, irrational phobia seperti claustrophobia (takut barada diruangan tertutup) dan agoraphobia (takut berada di tengah keramaian) termasuk gangguan kejiwaan tipe lain. Prejudice, atau kalo kata orang betawi suka berprasangka buruk ke orang lain, itu juga termasuk lho. Tambahan lagi, orang yang suka ngeliat hal-hal yang berbau pornografi, itu ternyata bisa dikatakan terganggu jiwanya.
Anyway, psychology isn’t all about mental illnesses. Psychologist juga tertarik untuk mengetahui hal-hal lain yang berhubungan dengan manusia dan segala tingkah lakunya. Misalnya nih, “kenapa sih kok dia judes gitu kalo ketemu aku?”
Lagi, psychologist punya lapangan kerja yang luas lho. Ngga kalah dengan bidang lain seperti ekonomi or teknik. Justru, psychology bisa nyusup kesana. Ngga pake kamuflase tentunya.
Di ekonomi contohnya, psychology punya cabang yang berkaitan. Di sebut I/O, Industrial organizational psychology. Gimana sih prilaku orang ekonomi itu, pebisnis misalnya.
Cultural psyc yang interest banget examine the effect of culture on human behaviour.
Sementara yang rada bergengsi lainnya adalah seperti cabang psyc di legal system. Titelnya Forensic and criminal psychology. Tugasnya antara lain membantu polisi menginvestigasi para criminal, terutama yang psychopath.
Tau FBI kan ??? Agen rahasia itu. Nah, ternyata psychologist sering dijadikan tempat rujukan mereka loh ketika memecahkan crime cases. Misalnya seperti dalam kasus serial killer, membantu dalam hal seperti criminal profiling. Uiih, keren kan ?!
Now move to other point.
Prasangka lainnya adalah psychology is secular science.
Weitsss… don’t jump into conclusion that fast, buddy! Wake up and smell the Coffey.
Tidak di pungkiri memang bahwa munculnya psikologi yang sekarang exist ini tidak lepas dari tangan Wilhelm Wund, Sigmund Freud atau B.F Skinner.
Tapi sebenarnya, kalo kita teliti meniti sejarah, psikologi telah lahir jauh sebelum orang-orang tadi hidup. Al Ghazali dan Al Balkhi adalah dua diantaranya. Bahkan Ibnu Sina juga berperan. Al Ghazali dengan analog-nya,manusia, kuda dan anjing, dengan lugas menggambarkan psikologi manusia tentang marah. Cognitive Behaviour Therapy (CBT) yang saat ini banyak dipraktekkan sebagai salah satu psychological treatment, adalah pertama kali diperkenalkan oleh Al Balkhi.
Pasti sodari sekalian sudah sering mendengar istilah islamisasi ilmu pengetahuankan ?!
Nah, begitulah yang juga sedang terjadi di tubuh psychology. And one of the Modern Muslim psychologists today is Prof. Malik Badri, I can tell. (FYI, beliau dosenku loh. Hehe)
Intinya, kalo mau jujur, psychology sebenarnya adalah ilmu untuk mengenal diri kita sendiri. Yang nantinya akan membawa kita mengenal Sang Pencipta.
Bukankah telah disebutkan bahwa barangsiapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengenal Rabby-nya. Hummm… untuk yang ini dibahas lain kali aja deh ya.
So, psychology bukan cuma untuk orang gila aja tho.
Setuju untuk sepakat?!




0 comments:
Post a Comment