Ada apa sebenarnya dengan makanan kita?
Sebentar, sebentar. Sahabat, coba tolong acungkan jari siapa yang suka makan daging ayam? 1…2…15…35…50…75... wuihhh, hampir semua ternyata.
Tidak heran memang kalau ayam menjadi menu terfavorit hampir di seluruh dunia. Enak, mudah di dapat, dan malahan di sebagian tempat harganya justru lebih terjangkau dari pada lauk lain, ikan misalnya. Tersedia tidak hanya di warung-warung kecil pinggir jalan, tapi juga di restoran-restoran mewah. Bahkan termasuk menu wajib di restoran fast food seperti kfc, Mc donald, dan sejenisnya.
Sahabat, mau tau ngga bagaimana proses penyediaan daging ayam potong tersebut? Seorang kawan pernah bercerita, ada temannya yang terlibat dalam penelitian penyediaan ayam potong. Sebuah peternakan ayam besar, setiap harinya mesti menyediakan ribuan ayam potong segar untuk menyuplai kebutuhan pasar. Dan setelah diteliti, ayam-ayam potong ini ternyata memiliki siklus hidup yang tidak normal. Sang ayam di suntik agar membesar dan bertelur lebih cepat sehingga bisa segera di jual. Proses pemotongannya pun serba instan.
Bayangkan! Setiap hari, dengan tenaga kerja peternakan yang sedikit dan waktu yang dimiliki terbatas, bagaimana harus memenuhi permintaan daging ayam potong di seluruh penjuru negeri? Caranya, sembelih dengan mesin! Allahuakbar! Apakah mesinnya di program supaya setiap kali nyembelih ngucapinbismillah atau ngga, hanya Allah dan mereka saja yang tahu. Konon, setelah tahu seperti ini, teman tersebut memutuskan berhenti makan daging ayam. Cara pengembangbiakkan tersebut bukan hanya berlaku untuk ayam saja, tapi juga pada Sayur dan buah-buahan.
Kita tentu tidak bisa sepenuhnya menyalahkan apa yang dilakukan oknum tersebut. Karena mereka melakukannya demi memenuhi kebutuhan pasar, yaitu perut-perut kita si konsumen. Kalau tidak ada daging ayam di pasar, kita yang bawel kan??
Sahabat, sebagian mungkin akan berkata, “Sudahlah, husnudzon aja ayamnya memenuhi kriteria makanan halal”, atau“Kan kita ngga tau bener atau ngga. Yang penting kalau makan baca doa”. Alright…easy man.
Tapi sebentar, saudara. Semudah itukah masalahnya??
Makanan yang tidak halal, apakah akan berubah statusnya menjadi halal hanya dengan dibacakan doa? Jawabannya adalah tidak. Silahkan tanya detailnya kepada yang berwajib.
Rasulullah sendiri mengatakan bahwa makanan yang baik akan menghasilkan insan yang baik pula (Hadith Arba’in ke-6). Maka sekarang coba kita lihat kondisi manusia bumi. Tidak sedikit yang akhlaknya, moralnya begitu merisaukan. Mau bukti? Lihat saja wajah media massa kita. Tiap hari rasanya tidak pernah sepi dari berita kriminal, mulai dari yang kelas ekonomi sampai VIP.
Wahai Sahabat, tidakkah kita terfikir, bahwa salah satu faktor penyebabnya adalah mungkin berasal dari makanan yang dikonsumsi setiap hari?
“Duh, ribet amat sih mau makan aja. Demi apa ini sebenarnya?”
Ada banyak Jawaban bertebaran. Yang pertama adalah Demi menjalankan perintah Allah. “Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya” (‘Abasa: 24). Tuuuuuh, Allah yang nyuruh langsung, gan! Berarti ini penting banget.
Yang kedua, demi memelihara apa yang sudah di beri Allah, atau lebih tepatnya dipinjamkan. Tubuh kita ini, Allah kan ngasihnya bagus, kondisi fit. Jantung sehat, ginjal sempurna, gigi ngga ada yang berlubang. Masak dikembalikan dalam keadaan cacat? Analoginya, sahabat minjemin Laptop ke tetangga sebelah. Gimana perasaan sahabat ketika si laptop dikembalikan, kondisinya sudah menjelang sakaratul maut? Mau di servis pun belum tentu selamat. Nyesek kan?! Maka sahabat, tugas kita adalah memelihara, karena ini juga merupakan satu cara mensyukuri nikmat-Nya. Makanlah yang baik, agar tubuh ini tetap dalam kondisi baik.
Disamping itu, efek dari mengkonsumsi makanan-minuman halal ternyata tidak hanya untuk badan kita saja loh, tapi juga untuk kesehatan mental & ruhani kita. Men sana in corpora sano, kalau diterjemahkan jadi al ‘Aqlu saliim fi jismi saliim. Masih lupa artinya? Silahkan buka kamus deh.
Sahabat, pernah ngga merasa, kenapa sih misalnya, mau sholat aja berat? Kenapa ya, mau tilawah tapi males bawaannya? Kenapa ya, kaki ini susah sekali diajak mendatangi majelis ilmu? Atau mungkin pernah juga merasa, kenapa ya diri ini bandel sekali?
Dikisahkan, seperti biasa menjelang shalat Maghrib Rasulullah duduk di beranda masjid mengobrol bersama sejumlah sahabat. Anak-anak asyik bermain sesama mereka. Sambil bercanda seorang anak melempar sesuatu kepada temannya. Tanpa sengaja benda yang dilemparkannya itu nyaris mengenai Rasulullah. Wajah Nabi Mulia ini agak berubah tanda kurang senang. Setelah berdiam sebentar, Rasulullah berkata: “Boleh jadi orangtua si anak itu ada termakan sesuatu yang haram.” Padahal ayah si anak itu ada di dalam majelis tersebut, namun Rasulullah dan para sahabat tidak mengetahuinya.
Usai Shalat Maghrib, seorang lelaki menemui Rasulullah dan berkata: “Ya Rasulullah! Sayalah ayah dari anak yang melemparkan benda tadi. Memang benar, saya pernah termakan sebiji kurma tanpa izin si pemiliknya.”
Di lain kisah, Rasulullah juga pernah bercerita bahwa ada seseorang sedang melakukan perjalan jauh. Badannya kumal dan berdebu. Dia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berkata : “Yaa Robbku, Ya Robbku”, padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan kebutuhannya dipenuhi dari sesuatu yang haram, maka (jika begitu keadaannya) bagaimana doanya akan dikabulkan (Hadith Arba’in ke-10). Wah sahabat, mungkin ini salah satu penjelasan mengapa doa kita rasanya jarang terwujud. Astaghfirullah.
Dan alasan yang terakhir mengapa harus peduli, karena menjaga apa yang kita makan hakikatnya adalah untuk menyelamatkan generasi selanjutnya. Zat makanan/minuman yang kita konsumsi lazimnya akan di serap oleh tubuh. Dibawa oleh darah, kemudian menyatu dengan tubuh kita dan menjadi daging. Selanjutnya, sifatnya akan otomatis bercampur dan membentuk satu susunan DNA. Kelak, genetik inilah yang akan terbawa ke dalam tubuh sang buah hati, darah daging kita. Maka tidak heran, banyak penelitian menyebutkan bahwa salah satu penyebab ‘abnormality’ tingkah laku adalah faktor genetik. Nah sahabat, adakah di antara kita yang ingin memiliki keturunan tidak baik? Tentu tidak ada kan. Maka kalau ingin punya keturunan yang baik, shalih/shalihah, makannya juga kudu dijaga. Karena makan bisa dikatakan juga sebagai investasi masa depan.
Jadi solusinya apa??
Yaah, kalau beli makanan, terutama yang dalam kemasan, ada baiknya kita perhatikan daftar gizi dan bahan pembuatnya. Kenali barbagai nama jenis-jenis bahan kimia makanan. Kita wajib tahu mana bahan pembuat makanan yang halal dan tidak.
Penting! Kalau belanja di swayalan, terutama yang tinggal di Negara dengan penduduk minoritas muslim, cek selalu label halal. Merasa repot? Gan, Lu kan muslim gitu loh. Masih ingat kan Kata Nabi junjungan kita; Muslim itu ibarat lebah. Tidak makan kecuali yang baik (halal).
Seterusnya, ada yang mau menambahkan saran lain?
Wallahu a’lam.



0 comments:
Post a Comment