Suatu kali pernah berjumpa dengan seorang bapak. Dilihat dari perawakannya, sepertinya sudah berusia separuh abad atau lebih. Dia bercerita, “ Alhamdulillah. Rumah saya sekarang sudah pasang listrik sendiri. Jadi ndak perlu numpang lagi sama tetangga”.
Sampai disini, aku ikut bahagia mendengarnya. Namun, cerita masih berlanjut ternyata.
“Sebenarnya, waktu masih numpang sama listrik tetangga dulu, saya yang mbayarin tagihan listriknya. Saya sih ndak masalah. Wong sekalian nolong orang tho. Dia itundak punya penghasilan tetap mbak. Kadang seminggu ngga dapet duit. Tapi…lhakok ya orang ini kebangeten. Wong sudah ditolong, kok ndak ati-ati. Sering waktu saya ke rumahnya, saya liat kok boros banget make listriknya. Tengah hari bolong, jendela dibuka, kok lampu juga dinyalain. Wes tho. Pokok’e nda eman-eman gitu pake-nya. ya sudah, saya putus saja listrik saya.”
Glekk! Aku bingung sendiri jadinya. Jadi kepikirian dengan si tetangga bapak tadi. Kalau berdasarkan matan ceritanya, tentulah dia termasuk orang yang tidak mampu. Maka kalau sekarang mereka harus membayar tagihan listriknya sendiri, kasihan dong.
Gimana menurut kalian??
Mungkin, atau bahkan pastinya ada diantara kita yang merasa iba pada si tetangga dan sebel sama si bapak. Egois banget sih. Tapi tidak salah, ketika ada yang mengatakan bahwa si tetangga juga mesti di kasih pelajaran. Apapun deh…
Dan ternyata, disadari atau tidak, kadang kala, diri kita juga bersikap sama seperti si tetangga tadi. Sama tidak tahu terimakasihnya kepada yang sudah memberi. Sudah di bantu kok ya ngga dipergunakan dengan bijak. Sudah diberi, kok ya malah dibuang-buang ngga jelas.
Sudah dikasih kesehatan sama Allah, agar bisa belajar nyaman, bekerja dengan baik, eh…malah pergi shopping, jalan-jalan ngga jelas, atau ngerumpiin orang. Dipinjamin panca indera, mata misalnya, bukannya digunakan untuk tadabbur alam, justru dibuat melihat hal-hal yang mengundang kemarahan Allah,
Nah lho, siapa yang ngga jengkel kalau begini?? Wajarlah, jika kemudian Sang Empunya sebel dan ngga enak hati, lalu memberi sedikit peringatan (atau pelajaran). Ketika nikmat sehatnya diambil sedikit, diuji dengan sakit mata misalnya, dia mengeluh. Mengatakan Allah tidak sayang padanya. Ckkk….ckkkk….ckkkk….heran kan?!
Begitulah kita. Acapkali diri ini masih kurang optimal dalam bersyukur. Astagfirullah…
Ampuni kami ya Rabb…


0 comments:
Post a Comment