Wednesday, October 31, 2012

Mengapa Menulis?


Sebuah pertanyaan dapat melahirkan begitu banyak jawaban, bermacam alasan dan tak terhitung pernyataan. Mengapa menulis? Maka satu suara menjawab, bahwasanya ia hanya sekedar kegemaran. Keinginan untuk berbagi cerita, berita, dan pengalaman. 

Ada juga yang merasa bahwa dengan menulis, beban di dada seolah telah terkikis. Gundah gulana menguap bersama tarian jari jemari di atas kertas tipis.  Maka menulis adalah laksana obat manis.
Menulis, ya karena ingin menulis saja. Tidak perlu alasan. Begitulah sebagian orang melontarkan jawaban. Ini, bukan karena tidak ada alasan, namun mereka hanya tidak mampu menjelaskan. 
Untuk menyampaikan pesan yang mungkin kelu jika diutarakan dengan lidah. Karena tak semua manusia cakap dalam berbicara, menyampaikan ragam pikiran dan isi hati. Disini, menulis menjadi salah satu bentuk ekspresi manusiawi.

Mengapa menulis? Sebab disanalah bergantung sumber nafkah. Menjemput rezeki dari Allah yang Maha Pemurah. Karenanya, ia menjelma menjadi tuntutan pekerjaan rumah.

Namun tak sedikit jua yang dengannya manusia mencoba mencari ketenaran nama. Pepatah lama mengatakan, gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, dan manusia mati meninggalkan nama. Dengan tulisan, manusia telah mencetak jejaknya dalam lembar nyata. Pertanda ia pernah menjadi bagian dari semesta.

Apapun, setiap orang tentu memiliki alasan masing-masing. Namun diantara semua yang tercetus, ada satu yang memiliki nilai tinggi. Mengandung kearifan dan kejujuran pengabdian pada Sang pemilik ilmu dan pengetahuan hakiki. Yaitu ketika menulis dijadikan sebagai sarana dakwah, berlandaskan niat menyebarkan pesan Ilahi. Dengan goresan pena ia kemudian membangun peradaban rabbani. Maka insan ini tidak hanya menoreh jejak di bumi, namun juga mengukir nama di langit hingga ke Arsy.  

Demikianlah. Ada begitu banyak motivasi berserak. Maka mengapa engkau tidak memulai untuk menulis?. Gerakkanlah penamu segera. Karena dua malaikat di kedua sisi kita pun tak pernah berhenti menulis.[NingRatih]
“Seperti apakah Anda? Menurut saya, paling tidak Anda adalah apa yang Anda tulis."
Helvy Tiana Rosa-

*telah diposting sebelumnya di blog SerumpuN

0 comments:

Post a Comment

 
;