Lagi-lagi topiknya ga jauh dari nikah neh... pengaruh lingkungan kali ya?! (haiahhh)
tapi yg ini beda kok! Coba baca dulu deh sobat apa yg mo kubahas kali ini, berdasarkan pengalaman nyata, memori beberapa waktu yg lalu, obrolan bersama seorang kawan.
“ Kak... kapan nih nikah??? Pokoknya jangan lupa undang aku ya! Atawa minimal dilibatkan dibagian konsumsi acara aja deh..huehehe....”
“ Duluan aja gak papa, tih”.
“Wah..gak etis! Ga pareng...”, jawabku.
“Aku gak mau nikah kok!”, balasnya santai sambil tetap asyik ngerapiin bukunya.
“Becanda mbok yo ojo kebangeten tho mbakyu...”, koreksiku.
“ lha...sapa yg becanda! Serius kok! Nikah itu capek, repot, ga bebas!”,
Gubrak!!! Pingsan deh aku nge-dengarnya! ( hehe...becanda kok!), tapi jawaban itu memang beneran terucap. Kutanya kenapa, ya katanya repot ntar kalo punya anak, doi yg hobinya jalan bakal merasa gak bisa sebebas saat ini, dan yg pasti dia masih pingin lanjut studinya lagi ke jenjang Phd. Menurutnya lagi, saat ini dia dah merasa semua kebutuhannya sudah terpenuhi dari segi finansial jadi tanpa suami pun dia bisa berdikari. Waaa????
Aku nyengir. Yg lain pada heboh ngomongin topik panas ini, eh dia kok???
Dilain kesempatan, dia dengan pede declare di depanku bahwa dia itu feminis.
Jdeerrrr...
Mungkin sebagian orang akan menudingnya ga waras karna kalo melihat dirinya yg muslimah pasti mereka akan terkejut bagaimana mungkin dia bisa terjangkit virus feminisme?! Tapi lagi-lagi kupikir, mungkin dia lagi keseleo lidah aja waktu itu.
ada juga kawan yg lain yg juga memiliki keinginan yg sama seperti ini, wah..di omelin habis-habisan ma ibunya. bahkan ampe di suruh ikut konseling dan di bawa ke kyai utk di tausiyah. fiuhhh....
Terlepas dari itu semua, aku ingin sedikit membahas tentang fenomena hidup membujang.
Sebenarnya sobat, hal ini sudah lama ada bahkan pada abad-abad awal islam berkembang. Ada beberapa Ulama terkenal yg telah menghabiskan hidupnya dengan status tetap single seperti Muhammad bin Jarir al tabari (313M) yg sangat terkenal dalam bidang tafsir al Qur’an, pengarang kitab sejarah yg cukup terkenal dan pendiri sebuah mazhab fiqih pada masanya. Demikian juga Mahmud bin ‘Umar al Zamakhshari (538M), seorang ulama dan pengarang kitab Tafsir, dan Ahmad bin ‘Abdul Halim Ibnu Taimiyyah (727M). Begitu pula dengan sufiyyah Rabiatul Adawiyah yg menolak pinangan Hasan Al Basri demi kekhusukannya beribadah pada Allah.
Mereka adalah tokoh-tokoh dalam bidang tafsir, hukum islam dan Auliya Allah yang memilih hidup single dikarenakan tanggung jawab mereka yg besar terhadap Allah dan Umat Islam. Namun, walaupun para Ulama dan Auliya ini tidak pernah mengasuh anak-anak karena tidak pernah berumah tangga, tapi mereka memiliki cara lain yaitu dengan membuka majlis-majlis ilmu, mendidik dan mengasuh murid-murid mereka hingga dikemudian hari manjadi pewaris ilmu mereka.
Satu hadits menyebutkan bahwa barangsiapa yg tidak mau menikah, maka dia tidak termasuk sebagai umat Nabi Muhammad.
Nah sobat, kalo dilihat dari kredibilitas para tokoh islam diatas, tentu tak diragukan lagi pemahaman mereka ttg hukum dan kewajiban bagaimana menjadi umat Nabi yg Baik, kan?! Mereka pastinya lebih tau ttg hakikat dan keperluan yg sebenarnya dalam kehidupan mereka dan of course mereka juga ga mau kalo ga diakui sebagai umat Nabi. Hanya saja, mereka ternyata lebih memilih untuk mengutamakan kepentingan besar dari pada kepentingan kecil.
Lagipula, bukankah hukum menikah itu tidak Cuma 1,kan?!
Kalo ada yg bilang tidak mau menikah adalah haram, so..mending buka dulu buku fiqih ttg nikah deh! Tapi karena aku baik hati (ehh??), silahkan baca dibawah ini aja deh!
1. Wajib, bagi yg sudah berkeinginan dan sanggup lahir batin untuk menikah dan khawatir akan terjebak dalam maksiat kalau ditangguhkan.
2. Sunah, bagi yg sudah berkeinginan dan mampu tapi masih sanggup menahan diri dari perbuatan maksiat.
3. Makruh, bagi yg tidak mampu (nafkah lahir-batin), walau sang istri ternyata masih bersedia menerima.
4. Mubah, bagi yg berada pada posisi tengah-tengah antara hal-hal yang mendorong keharusannya untuk menikah dengan hal-hal yang mencegahnya untuk menikah.
5. Haram, bagi yg tidak mampu, tidak ingin sama sekali dan khawatir akan mengabaikan tanggung jawab setelah menikah nanti.
Jadi... bagi yg ga mau menikah, mungkin mereka punya alasan sendiri. Dan gak etis kaya’nya kalo kita langsung men-judge negatif begitu saja.
toh bukankah masing-masing sudah memiliki pilihan hidup, kan?!



0 comments:
Post a Comment