Wednesday, December 5, 2012

Dia unik...


Sosok itu tetap melenggang gemulai, acuh dengan pandangan orang disekitarnya. Lembut, tenang dan santun. Sesekali tangannya lentik menyibak anak rambut yg jatuh di kening.
Aku tersenyum memandangnya. Opss… menjaga pandangan emang susah ternyata kalo ada yg unik. Astaghfirullah

Masih, aku tetap memperhatikannya dari jauh. Duh Rabby… Unik sekali makhlukMu yg satu ini. Sungguh, aq sebenarnya ngga nyangka kalo akan menemui yg seperti ini dikampusku_yg notabene terkenal dengan simbolnya “Islamic University”. Tapi yaah… kampus tetap kampus, yg dihuni berbagai macam manusia. Dan adalah hak mereka juga untuk menuntut ilmu disini. Dia, atau mereka, karena ternyata ada beberapa lagi yg lain, adalah manusia unik..

Mereka, dzohirnya tampak sebagai lelaki, namun personality dan karakternya sangat mirip dengan perempuan (feminine). Kalo di Indonesia gelarnya banci/ waria, sedang di Malaysia di sebut pondan.
Pernah ngobrol dengan Teman yg punya classmate seperti ini. katanya si dia suka cerita bahwa hampir tiap weekend selalu pergi ke salon, trus shoping. Katanya lagi, Parfum dan segala kosmetik yg dikenakannya tergolong high quality branded, ngga mau yg murahan. Glekkk… ngalah-ngalahin yg asli cewek nih!

Ketika dikampus, aku terkadang geli sendiri ngeliat cowok pergi kuliah pake tas tangan cewek. Dan biasanya mereka akan tampil lebih Stylish dari kebanyakan orang. Aku jadi ngebayangin gimana penampilan mereka ya kalo pake baju kurung!? Hehe…
Dan ketika lebih kuperhatikan lagi, kebanyakan dari mereka (mahasiswa dikampusku) memiliki speaking skill yg cukup ok, look confident and intellect. 
Beberapa saat lalu, Aku sempat berinteraksi dengan orang seperti ini. Waktu itu kita tergabung dalam satu grup, dan sedang mengadakan experimen. 

Honestly, I like the way he does all the things. Luwes dalam berbicara tapi cerdas dan serius. Somehow, perhaps I was subjective bias. But truly, I liked work with him.   
Ada satu pengalaman lucu. Waktu itu ada temen lain yg lagi conduct survey pake kuesioner, fokus hanya untuk partisipan cowok. Karna dah kepepet dan waktu itu pengunjung library lagi sepi (target operasinya di library), jadi dia kasih aja ke siapapun yg available di male area, salah satunya ada yg pondan. Pas lagi key-in data bareng-bareng, jadi heboh gitu karena ternyata di salah satu kuesioner, di kolom gender, ada yg nyontreng FEMALE. Kyahaha… pada sakit perut semua, ketawa.
Tapi, uniknya lagi… waktu sholat jum’at, mereka juga aktif datang kemasjid, rapi dengan baju kokonya. Subhanallah…
Bukan maksud untuk men-justifikasi, tapi kita tahu bahwa dalam islam hanya ada 2 gender saja yg diakui kan, yaitu laki-laki dan perempuan. Memang ada istilah khunsa, tapi ya tetap aja out of category kan!? Lalu bagaimana dengan mereka???

Dalam personality psyc, ada satu kasus yg terkenal yaitu bruce-brenda-david’s case. Silahkan baca sendiri disini ya!  
Biasanya, ketika terjadi keanehan seperti ini, orangtua yg akan mengambil inisiatif gender mana yg kira2 pantas untuk sang anak. Masalahnya, dikemudian hari tidak menutup kemungkinan akan terjadi hal yg mengejutkan. Seperti sosok diatas mungkin. Ini, karena sebenarnya bukan orangtua yg pantas memutuskan pilihan gender, tapi hormon yg ada didalam tubuh anak tersebut. Yg akan bereaksi seiring pertumbuhannya.
Well, Aku jadi jadi ingin tau. Di identity card mereka itu apa kira-kira yg tertera ya untuk kolom gender, laki-laki atau perempuan. Well… Kemungkin besar sih tetap memilih laki-laki.

Anyway, terlepas dari tujuan for have fun, mad about or sensation seeking, bagi yg merasa benar-benar “dipersimpangan”, bayangkan betapa sulitnya bagi mereka pribadi untuk menjalani itu semua. Terutama seperti mahasiswa dikampusku yg pastinya berstatus sebagai  seorang muslim, dan seorang yg berpendidikan. Tapi ya itu… tentu bukan karena mereka tidak tahu. Sungguh, sebuah usaha pencarian jati diri yg panjang.

Likewise, Faktor lain yg bisa di asumsikan sebagai “pembentuk” adalah lingkungan.
Hmmm… Positif thinking aja, mungkin lingkungannya didominasi oleh perempuan, or at least anggota keluarga seluruhnya perempuan. Jadi sedikit banyak mempengaruhi cara hidup dia.
Nonetheless, kalo dipikirkan, dan dilihat langsung dilapangan, tentu mereka ini tidak akan tertarik dengan lawan jenis, secara mereka sendiri berfikir bahwa mereka itu feminin. Alhasil, mereka jadi homoseksual (gay).

Lalu bagaimana hidup mereka ketika ingin berumah tangga???
Well, Di beberapa Negara barat, seperti Belanda, saat ini sudah dilegalkan perkawinan antar sesama jenis. Hmmm… it’s quite funny, rite?! Sapa  kira-kira yg jadi suami, dan sapa yg jadi istri. Apa mereka ngga ingin memiliki keturunan, I mean children?! Kan lazimnya hidup itu menikah (berumah tangga) dan memiliki anak.

Anyway, for addition information, sebuah riset pernah dilakukan berkenaan dengan hal ini oleh Simon LaVey. Partisipan adalah para pasien pengidap AIDS yg homosexual dan heterosexual. Hasilnya, ditemukan bahwa ada perbedaan size di salah satu bagian otak, Hyphothalamus, tepatnya yaitu di bagian tengah daerah preoptik, antara kedua grup tersebut. Disebutkan bahwa pada otak kaum homo ini, ukurannya 2-3 kali lebih kecil dari pada size otak lelaki normal (Larsen, 2002)*. Namun, ternyata riset ini bias. Bahwa responden yang diteliti adalah orang-orang yang terjangkit HIV/AIDS. kesimpulannya, otak orang sehat tenty berbeda dengan otak mereka kan ya??  

Well, mungkin ini hanya sebagai reminder, that we may only judge the behavior, not the person. Jadi, yg ngga bener itu tingkah lakunya, bukan orangnya. Karna dengan begitu akan mempermudah kita untuk menerima mereka. Toh mereka juga manusia, hanya sedikit berbeda.
After all, Faktanya sekarang, dikampus… jadi sulit kalo mau manggil mereka. Pake bro takut tersinggung, kalo dipanggil sis ntar yg ndenger pada mendelik. Serba salah deh!  
Well… inilah uniknya manusia. Tak ada yg bisa meraba dalamnya hati dan jalan fikiran seseorang.
Benar kata seseorang, bahwa hidup itu bukan hanya sekedar hitam atau putih, (dimana masing-masih sudah berada dalam tempat yg jelas), tapi juga ada abu-abu, dimana ketidakjelasan mungkin bersemayam.     

Maraji':
Larsen, Randy J. (2002). Personality Psychology: domain of knowledge about human natureNew York: McGraw-Hill.     

0 comments:

Post a Comment

 
;