Kami asyik berdiskusi seusai
kelas, di lorong kampus ketika seorang kawan menarikku kepinggir dengan
tergesa-gesa. aku berkernyit heran karena lorong kampus yg tadi dipenuhi oleh
mahasiswa mendadak clear. Hey, what’s wrong???
Dan ya Rabby, aku terpaku ketika
melihat siapa yg sedang melintas. Sesosok lelaki yang tampak begitu terpelajar
sedang berjalan sambil meraba-raba dengan tongkat. Beliau, entah siapa namanya aku
lupa, kata kawanku tadi ternyata adalah seorang dosen dikampus. Subhanallah…
Buta…. Ya Rabby…
Sejenak, Aku memandang
sekelilingku. Kuakui, kampusku memang indah. Dikelilingi hutan dan dilewati
sungai tepat ditengahnya. Taman-taman bunga yg indah juga bangunannya yg apik.
Subhanallah… indah nian karya Tuhan. Merah, biru, hijau, kuning.
Sunnguh, beruntung sekali aku
bisa menyaksikan keindahan ini.
Lalu aku teringat, bagaimana
dengan mereka yg tidak seberuntung aku? Ehmm, maksudku seperti para tuna
netra?? Terutama yg sudah dalam kondisi demikian sejak lahir?? Apa yg terbayang
dibenaknya??? Warna-warna seperti apa yg berkeliaran dalam imajinya??? Adakah
warna… atau hanya hitam, gelap??? Ya tuhan, mengerikan rasanya berada dalam
kegelapan. Dan perihnya, mereka sendiri juga mungkin tidak tahu apa itu gelap.
Gelap… yang pekat. Tak ada cahaya
apapun. Sendirian dan ketakutan, ketika tak tahu dan mengenal satu atau apapun
untuk berpegangan, mencarikan kekuatan.
Rasa itu asing, tentu bagi kita
yg telah sangat familiar dengan warna dan benda di sekitar dan sekeliling kita.
Sungguh tak terbayangkan rasanya jika suatu hari nanti, ketika akhirnya
sehari-hari kita, hanya bisa bermain dengan satu warna saja, hitam… gelap.
Tidak bisa melihat sesuatu apapun.
Dan beruntung Dia pernah
menunjukkan padaku seperti apa gambaran itu. ketika itu, kami dibawa ketengah hutan
yg gelap, tengah malam, benar-benar gulita karena bertepatan dengan tutup
bulan. Menakutkan. Namun untungnya, aku tidak sendirian. Night walking, adalah
salah satu agenda di program kampus yg kuikuti kali ini. Sungguh, ini
pengalaman pertamaku pergi ke hutan di tengah malam. Bahkan ketika pramuka dulu
aku menolak ikut. Sebenarnya, aku sendiri juga tidak tahu kalau ada kegiatan yg
seperti ini.
Dan datanglah rasa itu. asing,
gelap, takut. Ketika kami diharuskan duduk berdampingan untuk diam dan
bermuhasabah, saat itu aku baru sadar.
Memang mata ini terbuka lebar,
dan insyaAllah masih berfugsi baik, tapi tetap… semua yg terlihat hanya
kegelapan. Tak bisa membedakan apapun. Semuanya sama. Seakan tak ada batas dan
ujung.
Ya Rabb… seperti inikah rasanya,
mereka yg tidak bisa melihat??? Gelap!
Bagi mereka yg sudah buta sejak
lahir, tidak bisa melihat, maka hanya mengenal gelap. Tidak tahu bagaimana
indahnya sunset, birunya laut, kerlap-kerlip bintang dimalam hari, tidak tahu
wajah ibu dan ayah, bahkan tidak tahu bagaimana wajah kita sendiri.
Aku terpaku. Mereka…. dilahirkan
untuk tidak melihat dunia.
Sungguh.. sudah seharusnya aku
lebih bersyukur untuk anugerah ini.
Diwaktu yg lain, aku bertemu
dengan orang yg berbeda. Kali ini yg tidak bisa mendengar dan berbicara. Ya
rabby…
Alunan musik yg merdu, kicau
burung di pagi hari, hingar bingar dijalanan, merdunya azan, bahkan desiran
angin yg halus… mereka tidak bisa mendengarnya.
Telinga mereka tidak mampu
menerima dan menerjemahkan getaran suara yg datang, dan yg menyedihkan lagi,
mereka juga tak mampu mengeluarkan suara untuk merespon.
Rabby…. mungkinkah ada diantara
mereka, yg sebenarnya rindu mendengar suara lantunan ayat suci-Mu
keluar dari mulut mereka sendiri?!
Kemudian aku bertanya, lantas
bagaimana dengan mereka, yg selain tidak bisa mendengar dan berbicara, tapi
juga tidak bisa melihat? Sedari lahir!
Ya Tuhan, seperti apa dunia yg
mereka lihat??? Gelap, sunyi, hampa, begitukah???
Jika begitu, untuk apa mereka
lahir kedunia??? (Astagfirullah… ampuni ya Rabb, sungguh tidak pantas aku
menghakimi).
Gelap, karena mereka tidak bisa
melihat apa-apa, sunyi karena mereka juga tidak kenal berbagai macam suara_
bahkan tidak tahu seperti apa suaranya sendiri. Maka akhirnya yg tinggal
hanyalah kehampaan.
Lalu, bagaimana mereka harus
berkomunikasi denga dunia luar??? Ketika mereka ingin bertanya, bagaimanakah
harus melakukannya??? Bagaimana mereka memberitahu bahwa mereka lapar atau
haus??? Dan yg terpenting, bagaimanakah mereka mengenal-Mu???
Karena disadari atau tidak,
adalah nyata bahwa apa yg sudah kita pelajari, kita ketahui, kenal dan
kita pahami selama ini adalah hasil dari proses Mendengar dan
Melihat.
Kita makan pakai sendok karena
diajari sekaligus melihat orang lain melakukannya. Kita tahu apa itu baju dan
bagaimana cara memakainya karena kita melihat, atau mendengarkan orang
menjelaskan tentangnya .
Lantas bagaimana dengan mereka???
mereka tidak pernah melihatnya, apalagi mendengar, dan tak punya akses untuk
bisa mengetahui, belajar. Bagaimana caranya agar mereka juga tahu???
Maka jika suatu kali mereka
pernah merasa marah dan putus asa atas keterbatasan dan kesendiriannya, sungguh
aku tidak menyalahkan.
Bayangkan, dari hari kehari hanya
dilalui dalam gelap, sunyi dan sendiri, tidak tahu malam ataupun siang. Tiap
hari tak ada bedanya.
Ya Tuhan, bukankah tidak menutup
kemungkinan mereka juga rindu Pada-Mu, ingin mengenal-Mu???
Maafkan aku ya Rabb… aku hanya
ingin tahu…
Benar, bahwa Engkau Maha Adil.
Hanya aku yg mungkin terlalu bebal untuk melihat keadilan itu.



0 comments:
Post a Comment