Tuesday, December 4, 2012

Mereka yang berbeda


Kami asyik berdiskusi seusai kelas, di lorong kampus ketika seorang kawan menarikku kepinggir dengan tergesa-gesa. aku berkernyit heran karena lorong kampus yg tadi dipenuhi oleh mahasiswa mendadak clear. Hey, what’s wrong???
Dan ya Rabby, aku terpaku ketika melihat siapa yg sedang melintas. Sesosok lelaki yang tampak begitu terpelajar sedang berjalan sambil meraba-raba dengan tongkat. Beliau, entah siapa namanya aku lupa, kata kawanku tadi ternyata adalah seorang dosen dikampus. Subhanallah…
Buta…. Ya Rabby…

 Sejenak, Aku memandang sekelilingku. Kuakui, kampusku memang indah. Dikelilingi hutan dan dilewati sungai tepat ditengahnya. Taman-taman bunga yg indah juga bangunannya yg apik. Subhanallah… indah nian karya Tuhan. Merah, biru, hijau, kuning.
Sunnguh, beruntung sekali aku bisa menyaksikan keindahan ini.
Lalu aku teringat, bagaimana dengan mereka yg tidak seberuntung aku? Ehmm, maksudku seperti para tuna netra?? Terutama yg sudah dalam kondisi demikian sejak lahir?? Apa yg terbayang dibenaknya??? Warna-warna seperti apa yg berkeliaran dalam imajinya??? Adakah warna… atau hanya hitam, gelap??? Ya tuhan, mengerikan rasanya berada dalam kegelapan. Dan perihnya, mereka sendiri juga mungkin tidak tahu apa itu gelap.
Gelap… yang pekat. Tak ada cahaya apapun. Sendirian dan ketakutan, ketika tak tahu dan mengenal satu atau apapun untuk berpegangan, mencarikan kekuatan.
Rasa itu asing, tentu bagi kita yg telah sangat familiar dengan warna dan benda di sekitar dan sekeliling kita. Sungguh tak terbayangkan rasanya jika suatu hari nanti, ketika akhirnya sehari-hari kita, hanya bisa bermain dengan satu warna saja, hitam… gelap. Tidak bisa melihat sesuatu apapun.

Dan beruntung Dia pernah menunjukkan padaku seperti apa gambaran itu. ketika itu, kami dibawa ketengah hutan yg gelap, tengah malam, benar-benar gulita karena bertepatan dengan tutup bulan. Menakutkan. Namun untungnya, aku tidak sendirian. Night walking, adalah salah satu agenda di program kampus yg kuikuti kali ini. Sungguh, ini pengalaman pertamaku pergi ke hutan di tengah malam. Bahkan ketika pramuka dulu aku menolak ikut. Sebenarnya, aku sendiri juga tidak tahu kalau ada kegiatan yg seperti ini.
Dan datanglah rasa itu. asing, gelap, takut. Ketika kami diharuskan duduk berdampingan untuk diam dan bermuhasabah, saat itu aku baru sadar.
Memang mata ini terbuka lebar, dan insyaAllah masih berfugsi baik, tapi tetap… semua yg terlihat hanya kegelapan. Tak bisa membedakan apapun. Semuanya sama. Seakan tak ada batas dan ujung.
Ya Rabb… seperti inikah rasanya, mereka yg tidak bisa melihat??? Gelap!

Bagi mereka yg sudah buta sejak lahir, tidak bisa melihat, maka hanya mengenal gelap. Tidak tahu bagaimana indahnya sunset, birunya laut, kerlap-kerlip bintang dimalam hari, tidak tahu wajah ibu dan ayah, bahkan tidak tahu bagaimana wajah kita sendiri.
Aku terpaku. Mereka…. dilahirkan untuk tidak melihat dunia.
Sungguh.. sudah seharusnya aku lebih bersyukur untuk anugerah ini.

Diwaktu yg lain, aku bertemu dengan orang yg berbeda. Kali ini yg tidak bisa mendengar dan berbicara. Ya rabby…
Alunan musik yg merdu, kicau burung di pagi hari, hingar bingar dijalanan, merdunya azan, bahkan desiran angin yg halus… mereka tidak bisa mendengarnya.
Telinga mereka tidak mampu menerima dan menerjemahkan getaran suara yg datang, dan yg menyedihkan lagi, mereka juga tak mampu mengeluarkan suara untuk merespon.
Rabby…. mungkinkah ada diantara mereka, yg sebenarnya rindu mendengar suara lantunan ayat  suci-Mu keluar dari mulut mereka sendiri?!

Kemudian aku bertanya, lantas bagaimana dengan mereka, yg selain tidak bisa mendengar dan berbicara, tapi juga tidak bisa melihat? Sedari lahir!

Ya Tuhan, seperti apa dunia yg mereka lihat??? Gelap, sunyi, hampa, begitukah???
Jika begitu, untuk apa mereka lahir kedunia??? (Astagfirullah… ampuni ya Rabb, sungguh tidak pantas aku menghakimi).
Gelap, karena mereka tidak bisa melihat apa-apa, sunyi karena mereka juga tidak kenal berbagai macam suara_ bahkan tidak tahu seperti apa suaranya sendiri. Maka akhirnya yg tinggal hanyalah kehampaan.
Lalu, bagaimana mereka harus berkomunikasi denga dunia luar??? Ketika mereka ingin bertanya, bagaimanakah harus melakukannya??? Bagaimana mereka memberitahu bahwa mereka lapar atau haus??? Dan yg terpenting, bagaimanakah mereka mengenal-Mu???

Karena disadari atau tidak, adalah nyata bahwa apa yg sudah kita pelajari, kita ketahui, kenal dan kita  pahami selama ini adalah hasil dari proses Mendengar dan Melihat.
Kita makan pakai sendok karena diajari sekaligus melihat orang lain melakukannya. Kita tahu apa itu baju dan bagaimana cara memakainya karena kita melihat, atau mendengarkan orang menjelaskan tentangnya .
Lantas bagaimana dengan mereka??? mereka tidak pernah melihatnya, apalagi mendengar, dan tak punya akses untuk bisa mengetahui, belajar. Bagaimana caranya agar mereka juga tahu???
Maka jika suatu kali mereka pernah merasa marah dan putus asa atas keterbatasan dan kesendiriannya, sungguh aku tidak menyalahkan.
Bayangkan, dari hari kehari hanya dilalui dalam gelap, sunyi dan sendiri, tidak tahu malam ataupun siang. Tiap hari tak ada bedanya.
Ya Tuhan, bukankah tidak menutup kemungkinan mereka juga rindu Pada-Mu, ingin mengenal-Mu???

Maafkan aku ya Rabb… aku hanya ingin tahu…
Benar, bahwa Engkau Maha Adil. Hanya aku yg mungkin terlalu bebal untuk melihat keadilan itu.

0 comments:

Post a Comment

 
;