Tuesday, October 9, 2012

Catatan Konflik Lawas Gereja vs Sains


Sobat, ada satu buku menarik; Islam and Science yg ditulis oleh Pervez Hoodbhoy (1991). Keren deh!
Nah... topik yg mau aku share kali ini adalah salah satu bab-nya yg berjudul; The war between Science and Medieval Christianity. Dijamin ngga ngebosenin kok!
Di awal tulisan aja diawali dengan statement ini:
The wife of the Bishop of Worcester, when informed about Darwin’s theory, commented, “Descended from the Apes! My dear, let us hope that it is not true, but if it is, let us pray that it may not become generally known” .

Guys, yoU know what... ternyata doa Nyonya ini dikabulkan Tuhan, karna teori ini akhirnya muncul juga ke permukaan. yang artinya_seperti ucapan Nyonya tadi_ ini ngga  benar. Karna kalo benar, maka tentunya ini hanya akan menjadi sebuah rahasia sakral. Begitu kan?! (ngasal deh daku!)

Back to the topic! 
Seperti yg kita tau, bahwa Gereja Eropa menjalankan kekuasaanya dg tangan besi pada abad pertengahan. Bawaannya tuh curiga mulu. Dikit-dikit main prasangka, bahkan seringkali terkesan irasional ketika mengeluarkan keputusan, misalnya bahwa orang yg memiliki tahi lalat, itu artinya upenyihir, utusan setan. Ckkk...ckkk...ckkk....
Kita juga tau bagaimana Galileo dihukum mati karna berani berkoar bahwa bumi itu bukan pusat tata suria. Bumi justru berotasi mengitari matahari, the center of solar system. Ini bertentangan dg apa yg diyakini Gereja. Maka pak tua Galileo pun akhirnya harus mengalami nasib tragis demi keyakinannya tersebut.

Dibawah ini adalah beberapa catatan sejarah konflik Gereja vs Sains yg pertama kali ditulis oleh Andrew Dickson White dalam buku A History of the warfare of Science with Theology (1896), yg kemudian menjabat sebagai the first President of Cornell University.

Sebuah Doktrin yg menyatakan bahwa bumi itu bulat, maka adanya antipoda ( kutub maksudnya) dengan sinis dicemooh oleh para teolog. mereka bertanya: ‘apakah ada orang yg begitu bodoh untuk percaya bahwa pohon dan tumbuhan tumbuh ke bawah?... bahwa hujan dan salju jatuh keatas?’. Para gerejawan St.Augustine yg otoriter dengan keras menentang adanya daerah kutub diatas bumi yg dipercayai berbentuk bulat oleh sebagian ilmuwan dan tetep kekeuh memegang taklid buta selama ribuan tahun bahwa tidak mungkin ada manusia yg hidup di sisi lain bumi_ bahkan mereka terlalu sulit untuk percaya bahwa bumi juga memiliki sisi satu lagi. Nah... pada abad ke-6, procopius of Gaza malah nambahin pernyataan yg tidak kalah aneh lagi; ‘tidak mungkin bumi memiliki sisi yg lain selain daripada yg kita pijak hari ini. karna kalau ada, maka Yesus harus pergi kesana dan menderita lagi untuk yg kedua kalinya. Bahkan harus ada duplikat Adam yg baru, surga Eden, juga banjir besar nuh disana. Maka, tidak mungkin ada antipod!’. (eng...ing...eng...).

Penyakit, Santa Paul dengan PeDe mendeklarasikan bahwa itu adalah buah karya Iblis. Pemuka gereja bilang; Iblis-lah yg menciptakan Kelaparan, Kegagalan, Polusi dan Wabah. Mereka menjelma sebagai awan dilangit terendah dan menjalar ke dalam darah. (waaah???)

Sekitar tahun 1770, satu gejala alam telah terjadi di Eropa. Sebuah kesaksian dikirim ke Royal Academy of Scince bahwa air sungai telah berubah warna menjadi darah. Lagi-lagi, gereja merumuskan bahwa Tuhan sedang ngambek. Ketika hal ini dikaji oleh seorang naturalis Swedia, Linnaeus, yg dengan jeli meneliti dan menyimpulkan bahwa air menjadi merah itu adalah karena meledaknya populasi serangga tertentu dan itu hanya hal yg biasa. Mendengar diagnosa terbaru ini, segera gereja menampik bahwa penemuan saintifik itu adalah kesesatan Setan dan bahwa berubahnya warna air menjadi merah darah adalah hal yg tidak biasa. Karena Linnaeus tak ingin hidupnya berkhir tragis seperti Galileo, maka dia pun menarik kembali penemuannya tersebut.(Cari jalan selamat aja deh!)

Komet, ketika itu dianggap sebagai bola api yg dikirim dari langit karena Tuhan marah. Maksudnya, kalo ada komet melintas, itu artinya legitimasi dari Tuhan untuk segera meng-eksekusi orang-orang yg tersesat (menurut Gereja). Bahkan pada abad ke-17, para profesor astronomi harus diambil sumpah untuk mencegah mereka mengajarkan bahwa komet hanyalah gejala alam yg bisa dijelaskan secara rasional dengan hukum fisika. Hanya sayangnya, sains tidak bisa dibohongi. Akhirnya, Halley pun tetap lantang muncul dg teori komet Halley-nya yg memang terbukti 76 tahun kemudian, bersamaan dg munculnya komet yg telah diprediksikan olehnya. (gigit jari deh tu!)

Pada abad pertengahan, badai dipercayai oleh gereja, lagi-lagi sebagai ulah Iblis. Mereka percaya bahwa dengan memukul lonceng selama badai berlangsung adalah cara yg terbaik untuk melawannya. Di abad ke-15 malah lebih parah lagi. Mereka percaya bahwa perempuan tertentu diyakini memiliki kekuatan untuk membuat angin puyuh, hujan es, banjir, dan semacamnya. Maka mereka pun dikejar untuk dieksekusi agar badai tidak lagi datang dan merusak pertanian. Dan akhirnya pada tanggal 7 desember 1484, Pope Innocent VIII mengetuk palu mengesahkan pembantaian ribuan wanita yg dicurigai Gereja sebagai pembawa musibah.

Halilintar atau petir, kembali divonis gereja sebagai akibat dari 5 dosa: tidak menyesal ketika berbuat dosa, ketidakpercayaan, mengabaikan perbaikan gereja, penipuan dalam pembayaran sumbangan kependetaan, dan penindasan terhadap bawahan. Jari Tuhan adalah julukan untuk Si petir. Kemudian, pada tahun 1752, munculah Benjamin Franklin dengan teorinya bahwa petir itu hanyalah percikan listrik di angkasa. Lalu dibuatlah tiang petir yg gunanya sebagai konduktor ketika listrik angkasa tersebut menyambar bumi. Seperti biasa, gereja menolak mentah-mentah teori sains. Tapi masyarakat ternyata lebih percaya pada Franklin. Terjadinya gempa bumi pada tahun 1755 di Massachussetts, dijadikan kambing hitam sebagai konsekuensi buruk dari tongkat petir Franklin. Konflik pun berlanjut. Di Jerman, antara tahun 1750-1783, ada sekitar 400 menara gereja yg hancur dan 120 pemukul lonceng yg tewas oleh petir. Anehnya, kota brothel yg tetap setia dengan tongkat petirnya, ternyata selamat dari badai yg dahsyat sekalipun. Bahkan beberapa gereja kecil dikota tersebut juga tidak tersentuh jilatan petir. Maka akhirnya, di akhir abad itu, kembali gereja dengan terpaksa harus menelan pil pahit kekalahan-nya terhadap Sains.

Nah sobat... inilah sedikit poin yg rasanya cukup memberikan gambaran pada kita betapa susahnya Gereja akur dengan Sains dan Logika. Mungkin karena masalah inilah, banyak jemaahnya yg akhirnya lebih memilih menjadi atheis daripada terus menerus dicekoki dg irrational thought. Secara kita sudah modern (sains & teknologi) githu loh! Namun  sayangnya, ini kebablasan. Sekarang malah ada pindah ke kepercayaan lain yaitu saintologi.
Disamping itu, ternyata dunia modern ternyata tidak membiarkan gereja melupakan kejahatan masa lalunya begitu saja. 9 mei 1983, pada sebuah upacara spesial di Vatikan, Pope John Paul II mengeluarkan pernyataan maafnya pada dunia;
‘The Church’s experiences, during the Galileo affair and after it, has led to a more mature attitude... it is only through humble and assiduous study that (the Church) learns to dissociate of the faith from the scientific systems of a given age.’   

Sebuah Permintaan maaf yg sungguh kelewat telat! Bayangkan, itu adalah peristiwa 3,5 abad lalu! Selama itukah Gereja perlu beradaptasi dengan Sains dan Logika?!
What would yoU say,guys???


3 comments:

Anonymous said...

Gereja juga adalah bagian dari sejarah manusia. Pasti ada kejahatan yang pernah dibuatnya. Wajar saja, menurut saya, karena semua orang bisa berbuat demikian.

Hendra

ningratih said...

Yups...
dan dari sana kita banyak belajar :)

pencari kebenaran hakiki said...

sesuatu yg bisa dikatakan bohong takkan bisa dipertahankan untuk selamanya

Post a Comment

 
;